Tak Jadi Dibakar, Jaring Cothok Yang Bikin Resah Akhirnya Dialihfungsikan
Kepala Desa Sukoharjo, Rembang, Lilik Haryanto menunjukkan jaring cothok dialihfungsikan untuk pengaman lapangan volly.
Kepala Desa Sukoharjo, Rembang, Lilik Haryanto menunjukkan jaring cothok dialihfungsikan untuk pengaman lapangan volly.

Rembang – Gangguan alat tangkap ikan terlarang berupa jaring cothok, semakin meresahkan nelayan kecil di pesisir pantai utara Rembang.

Sunarto, seorang nelayan Desa Sukoharjo (Jarakan), Rembang mengatakan operasional jaring cothok rawan merusak alat tangkap lain yang ramah lingkungan. Nelayan pengguna jaring cothok biasanya langsung menjauh jika ketahuan. Namun mereka juga berani melawan, apabila jumlahnya banyak dalam satu area.

“Kalau ada cothok, alat tangkap lain ya ikut kesasak. Ya jaring, ya bobo (penjebak rajungan-Red) rusak semua pokoknya, “ keluh Sunarto, Senin (24 Agustus 2020).

Kepala Desa Sukoharjo, Lilik Haryanto menuturkan belum lama ini nelayan kampungnya memergoki nelayan dari desa lain mengoperasikan jaring cothok. Jaring langsung diamankan, kemudian dibawa ke pinggir pantai. Semula akan dibakar, namun atas kesepakatan warga dimanfaatkan sebagai jaring pengaman di pinggir lapangan bola volly Sukoharjo.

“Dulu waktu kita dapat banyak, jaring dibakar. Tapi ini hanya dapat 1, kemudian dipakai di pinggir lapangan volly, untuk mengamankan biar bola nggak menggangu genteng atap rumah warga, “ ucap Lilik.

Lilik membenarkan jumlah jaring cothok semakin banyak belakangan ini. Diperparah ukurannya lebih besar. Kalau mereka pakai di pantai bagian pinggir, tentu meresahkan nelayan perahu kecil. Kecuali menebar cothok di tengah, kemungkinan dampaknya tidak begitu terasa.

“Selama ini kan kebanyakan di pinggir, jadi nelayan kami sangat resah, “ imbuhnya.

Ia memastikan di Desa Sukoharjo, dari 300 an orang nelayan, tidak ada seorang pun yang memakai jaring cothok. Nelayan memilih memakai alat tangkap ramah lingkungan, karena menyadari jaring cothok dilarang pemerintah.

“Nyatanya nelayan kami bisa bertahan, meski mungkin hasil tangkapan nggak sebanyak jika pakai cothok. Nelayan desa lain yang mau tanya-tanya ke sini, monggo, kita terbuka saja, “ beber Lilik.

Sekretaris Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sukoharjo, Partono mengakui fenomena jaring cothok memicu kerawanan konflik nelayan ketika melaut. Ia menyarankan ada paguyuban gabungan nelayan antar desa di pinggir pesisir Pantura Rembang, sehingga tidak muncul blok-blok an antara pengguna cothok dengan pemakai alat tangkap ramah lingkungan.

“Harus disadari bahwa cothok untuk jangka panjang merusak habitat laut. Kalau ini dibiarkan kan merugikan nelayan sendiri akhirnya. Monggo lah antar nelayan inisiatif bertemu, bicara baik-baik dan jaga komitmen untuk menghindari cothok. Saya juga setuju jaring cothok yang diamankan tidak dibakar, tapi dimanfaatkan saja, “ kata Partono.

Sementara itu, Komandan Satpolair Polres Rembang, Iptu Sukamto menyatakan pihaknya bersama tim gabungan rutin melakukan penertiban jaring cothok. Namun nelayan cenderung main kucing-kucingan dengan aparat. Kendala sosial ekonomi nelayan dianggap menjadi pemicu, kenapa jaring cothok sampai sekarang sulit diberantas.

“Sosial ekonomi nelayan yang jadi persoalan. Kita tidak kurang-kurangnya sosialisasi maupun operasi, “ tandasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *