Nganguk – Pentil Rawan, Harus Lebih Waspada
Jalan yang merekah akibat tanah gerak di jalur Nganguk – Pentil ditutup tanah uruk.
Jalan yang merekah akibat tanah gerak di jalur Nganguk – Pentil ditutup tanah uruk.

Kaliori – Tanah gerak mengakibatkan rekahan jalan di Dusun Nganguk – Dusun Pentil, Desa Gunungsari, Kecamatan Kaliori semakin parah. Ada sejumlah titik rekahan jalan yang terpisah-pisah, namun kalau ditotal, perkiraan panjangnya mencapai 100 Meter.

Sunardi, seorang warga Dusun Nganguk Desa Gunungsari mengakui secara umum kondisi jalan aspal hotmix masih bagus. Tapi akibat tanah gerak, berdampak pada rekahan aspal hotmix. Lama kelamaan bertambah lebar, rata-rata 25 – 30 centi meter.

“Sudah 2 tahun terakhir ini, tiap kali diperbaiki, rusak lagi, begitu terus. Soalnya tanah di sini gerak, “ ungkapnya, Kamis (13 Agustus 2020).

Kondisi ini membahayakan pengguna jalan, terutama pengendara sepeda motor yang melaju pada malam hari. Apalagi jika yang bersangkutan kebetulan baru kali pertama lewat jalur itu dan belum memahami medan jalan, akan rawan terjatuh, karena ban sepeda motor terperosok pada rekahan tersebut. Menurutnya, sudah berulang kali pengendara sepeda motor mengalami kecelakaan.

“Tiga hari lalu, 2 pengendara motor terjatuh. Penyebabnya sama, ban motor masuk rekahan ini. Orangnya luka-luka, motornya juga rusak, “ imbuh Sunardi.

Menanggapi masalah tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang Kabupaten Rembang, Sugiharto menjelaskan retakan jalan di Dusun Nganguk Desa Gunungsari akan dicek oleh tim UPT di lapangan. Prinsipnya, apabila kerusakan sudah membahayakan, harus lekas ditangani.

“Ada UPT wilayah timur, tengah dan barat, Nganguk masuk wilayah barat. Cuma ini anggaran pemeliharaan jalan sudah habis, nanti kita coba alokasikan di anggaran perubahan, “ tandasnya.

Ditanya efektif mana antara aspal hotmix dengan beton, menurut Sugiharto jika kontur tanah gerak, idealnya menggunakan jalan beton. Tapi konsekuensinya, menelan biaya jauh lebih besar. Pemkab Rembang menerapkan aspal hotmix di ruas jalan itu, supaya jalan yang ditingkatkan mutunya lebih panjang.

“Jadi tinggal pilih sebenarnya. Kalau dana sedikit, pilih hotmix, biar dapat panjang. Kalau pakai beton, memang lebih kuat. Tapi butuh dana besar dan yang ditangani lebih pendek. Soal cocok mana, ya cocok beton, “ kata Sugiharto.

Untuk sementara, rekahan jalan ditutup dengan menggunakan tanah uruk. Hanya saja seusai hujan deras, tanah uruk pun tergerus, sehingga tak kuat bertahan lama. Maka pengguna jalan dihimbau waspada, ketika lewat jalur Nganguk – Pentil.

“Sebelah barat jalan kan ada sungai, sudah dibuat plengsengan, tapi kurang layak. Kedepan kalau ditata lagi, pemadatan plengsengan harus lebih baik, untuk meminimalkan potensi tanah gerak. Cukup panjang memang, jadi butuh duwit gede, “ ujar Mahmud, seorang pengguna jalan. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan