Tiap Memasuki Musim Kemarau, Lokasi Ini Langganan Kebakaran
Para relawan memadamkan api di kawasan Gunung Bugel Pancur, Sabtu malam.
Petugas BPBD dan para relawan memadamkan api di kawasan Gunung Bugel Pancur, Sabtu malam.

Pancur – Kebakaran di kawasan Gunung Bugel turut tanah Desa Warugunung, Kecamatan Pancur, Sabtu malam (18/07), menyedot perhatian masyarakat, karena api menjalar cepat. Total luas lahan yang terbakar sekira 2 hektar.

Khawatir akan semakin meluas, pihak desa menghubungi petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Setelah itu, petugas BPBD bersama masyarakat dan para relawan berupaya memadamkan api, dengan menggunakan peralatan seadanya. Termasuk memakai ranting-ranting pohon, langsung dipukulkan pada titik api. Sekira pukul 23.00 Wib Sabtu malam, api berhasil dilokalisir. Gunung Bugel selama ini menjadi daerah langganan kebakaran tiap musim kemarau.

Camat Pancur, Suharto saat dikonfirmasi mengatakan kawasan Gunung Bugel merupakan lahan milik Pemkab Rembang. Namun diberdayakan warga sekitar dengan tanaman jati. Banyaknya daun jati meranggas, mengakibatkan api rawan meluas, jika ada sumber api sedikit saja.

“Di situ memang rimbun sekali mas, sudah mirip hutan. Status lahan milik Pemkab Rembang, bukan Perhutani. Posisinya berada di perbatasan Kecamatan Pancur dengan Kecamatan Lasem, “ tuturnya.

Suharto mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Ia mencontohkan pada musim kemarau seperti ini, sebaiknya menghindari membakar sampah, untuk pembersihan lahan. Kalau api sudah membesar, dikhawatirkan akan kewalahan memadamkan. Apalagi jika membakar sampah di tengah lahan tanpa pengawasan, tentu sangat beresiko.

“Kadang bakar sampah di lahan, lalu ditinggal pulang. Meski Gunung Bugel jauh dari perumahan penduduk, tapi ya tetap harus diwaspadai, “ imbuhnya.

Catatan Redaksi R2B, peristiwa warga meninggal dunia terpanggang di tengah kobaran api, usai membakar sampah di lahan, beberapa kali terjadi di Kabupaten Rembang, sepanjang musim kemarau tahun 2019 lalu. Rata-rata korban sudah berusia lanjut dan tidak bisa menyelamatkan diri. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *