Habiskan Rp 850 M Lebih, Petani Kec. Sumber Dan Kaliori Sangat Menantikan Proyek Nasional Ini Selesai
Pembangunan Bendung Randugunting di Desa Kalinanas, Kecamatan Japah, Kabupaten Blora. (Foto atas) Muh. Maji’in, warga Desa Meteseh Kec. Kaliori saat melihat proses pembangunan bendungan, belum lama ini.
Pembangunan Bendung Randugunting di Desa Kalinanas, Kecamatan Japah, Kabupaten Blora. (Foto atas) Muh. Maji’in, warga Desa Meteseh Kec. Kaliori saat melihat proses pembangunan bendungan, belum lama ini.

Sumber – Kabar melegakan untuk petani di Kecamatan Sumber dan Kecamatan Kaliori, menyusul pembangunan Bendungan Randugunting di Desa Kalinanas, Kecamatan Japah, Kabupaten Blora.

Meski posisi bendungan berada di Kabupaten Blora, namun aliran airnya akan ditujukan ke lahan pertanian di Kabupaten Rembang dan Kabupaten Pati. Kabupaten Rembang mencakup Kecamatan Sumber dan Kecamatan Kaliori.

Camat Sumber, Hamdani, Minggu siang (07 Juni 2020) menjelaskan ia kebetulan sudah 2 kali mengikuti rapat, terkait bendungan Randugunting.

“Pertama di kantor Kecamatan Sumber dan kantor Kecamatan Japah. Tentu saja ini sangat melegakan bagi kami, di tengah keterbatasan air, “ terangnya.

Hamdani menambahkan Bendungan Randugunting dibangun sejak tahun 2018 lalu dan dijadwalkan selesai tahun 2022. Ia berharap akhir tahun 2022, airnya sudah bisa dimanfaatkan. Kemungkinan besar air dari Randugunting dialirkan menuju Bendung Kedungsapen Desa Jatihadi Kecamatan Sumber, untuk dipecah ke berbagai arah.

“Desa Jatihadi, Sekarsari sampai Kaliori sudah ada saluran irigasinya. Tapi air dari Bendung Randugunting ini kan besar, bisa saja dialirkan sampai Desa Megulung, Desa Jadi dan sekitarnya, jadi butuh saluran baru, “ imbuh Hamdani.

Sementara itu seorang petani di Desa Jatihadi Kecamatan Sumber, Markum mengaku sangat menunggu-nunggu aliran air dari Bendungan Randugunting. Paling tidak, petani di Kecamatan Sumber dan Kecamatan Kaliori nantinya bisa panen padi 2 kali dan sekali menanam palawija setiap tahun.

“Kalau setahun 3 kali padi terus, khawatirnya kondisi tanah malah kurang bagus. Selama ini petani umumnya musim tanam padi sekali berhasil, tanam padi kedua gagal, karena kekurangan air. Setelah ada Randugunting, semoga meningkatkan hasil pertanian, “ ujarnya.

Markum menambahkan pihaknya sudah 3 kali mengajukan kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana, agar Bendungan Jatihadi dikeruk, karena mengalami pendangkalan sangat parah. Tapi usulan tersebut belum direalisasi, karena disarankan petani menunggu aliran air Bendung Randugunting saja.

“Saat kami ke Semarang di kantor BBS Pemali Juwana, diberi informasi nggak usah dikeruk. Tapi nunggu saja operasional Bendungan Randugunting, ya sudah kita manut saja, “ kata Markum.

Hal senada diungkapkan Muh. Maji’in, petani di Desa Meteseh Kecamatan Kaliori. Ia berharap apabila air dari Bendungan Randugunting besar, Pemkab Rembang dapat menambah jalur irigasi, supaya penyebaran air semakin luas dan banyak petani memanfaatkan.

“Saya pernah datang lihat langsung ke Bendung Randugunting kira-kira sebulan lalu. Intinya saya sangat senang sekali. Cuman ada rasa khawatir juga, soalnya kalau bendung jebol, bisa membahayakan warga. Semoga hal itu nggak terjadi, “ pungkasnya.

Bendungan Randugunting di Desa Kalinanas dan Desa Gaplokan Kecamatan Japah, Kabupaten Blora luasnya mencapai 250 hektar, dengan luas genangan 187,19 hektar dan mampu menampung air 10,40 juta Meter Kubik. Salah satu proyek nasional dari Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat ini, menyedot anggaran Rp 858 Milyar lebih. (Musyafa Musa).

News Reporter

1 thought on “Habiskan Rp 850 M Lebih, Petani Kec. Sumber Dan Kaliori Sangat Menantikan Proyek Nasional Ini Selesai

  1. Alhandulillah…..ya Allah smga punya manfaat besar utk masyarakat Blora-Rembabg-Pati yg selama ini membytuhkan air utk pertanian, dan air bersih. Smga Allah selalu memberi kekuatan thd pemerintah yg peduli pd daerah tsb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *