Pilkada Sangat Minim Figur Calon, Akibat Tersandera Rasa Takut
Bupati dan Wakil Bupati Rembang, Abdul Hafidz (baju merah) & Bayu Andriyanto asyik berbincang, dalam sebuah kegiatan, beberapa waktu lalu.
Bupati dan Wakil Bupati Rembang, Abdul Hafidz (baju merah) & Bayu Andriyanto asyik berbincang, dalam sebuah kegiatan, beberapa waktu lalu.

Rembang – Bursa pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Rembang pada musim Pilkada tahun 2020 ini sangat minim figur. Hal itu salah satunya diduga karena tersandera ketakutan menghadapi bakal calon Bupati incumbent, Abdul Hafidz. Buktinya, di kalangan partai politik, nyaris belum ada tokoh yang terang-terangan berani ingin maju menjadi calon Bupati. Justru mereka ramai-ramai mengincar posisi Wakil Bupati.

Pendapat tersebut dilontarkan politisi Partai Gerindra, Puji Santoso, kepada Reporter R2B. Ia membandingkan dengan Kabupaten Tuban, Jawa Timur, tokoh-tokoh yang berminat maju menjadi calon Bupati sudah marak, sehingga berpengaruh terhadap dinamika politik. Tapi kebalikannya di Kabupaten Rembang sangat minim figur, hampir tidak ada tokoh berani menantang Abdul Hafidz, Bupati sekarang yang akan dicalonkan lagi oleh Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

“Beda mas kalau seandainya ada tokoh yang bilang, saya berani menantang Abdul Hafidz, dengan modal sekian persen kursi dari partai ini, bisa diajak komunikasi. Kalau sekarang nggak ada yang deklarasi, “ ujarnya.

Ia berpendapat fenomena ini bisa jadi karena sosok Abdul Hafidz dianggap paling berpeluang terpilih, sehingga figur-figur lain yang diharapkan berani menjadi calon Bupati, akhirnya memposisikan diri sebagai bakal calon Wakil Bupati saja. Puji masih berharap keputusan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang mengantongi 8 kursi berani mengajukan bakal calon Bupati. Apalagi waktu semakin mepet, karena pertengahan bulan Juni, KPU sudah membuka pendaftaran bakal calon.

“Kiprahnya PKB sampai sekarang belum muncul. Ini sudah mendekati akhir bulan Februari lho. Kalau pun ada bakal calon, menggalang massanya sangat singkat. Beda dengan incumbent punya waktu menggalang massa sejak dulu, “ imbuh anggota DPRD daerah pemilihan Kec. Lasem dan Kec. Pancur ini.

Puji menambahkan di Partai Gerindra sendiri kemungkinan besar tidak akan mengajukan kader untuk didaulat menjadi bakal calon Wakil Bupati, apalagi Bupati. Ia sadar partainya hanya menduduki 3 kursi DPRD, sehingga sikap paling realistis adalah mendukung salah satu pasangan calon, yang memiliki kesamaan platform dan visi misi dengan Gerindra, tetapi berpeluang menang dalam Pilkada 23 September mendatang.

“Kita tahu diri dan makmuman saja. Kalau langsung menawarkan bakal calon Wakil Bupati, ya kurang etis lah. Wakil Bupati itu minimal ya 5 atau 6 kursi. Partai-partai besar saja belum berani deklarasi kok, “ tandasnya.

Puji mengakui pihaknya sudah melakukan komunikasi awal dengan Abdul Hafidz, bakal calon Bupati incumbent. Tapi sayangnya sampai sekarang, Abdul Hafidz juga belum mengumumkan pasangan yang akan digandeng, sehingga partainya masih menunggu perkembangan, sebelum memutuskan akan berlabuh kemana. Bagaimanapun, sosok Wakil Bupati juga penting, karena berkaitan dengan peta dukungan dan program kerja pasangan.

“Kita masih nunggu, bagi kami figur Wakil Bupati juga menentukan. Kalau sudah ada Cabup Cawabup kan ada program kerja. Kemudian partai politik sepakat, siapa yang mendukung dan siapa yang mengusung, “ beber Puji.

Puji memprediksi jika Pilkada kali ini sangat minim figur calon, kemungkinan kondisi serupa tidak akan terjadi pada Pilkada periode berikutnya. Ia beralasan kelak setelah Bupati incumbent, Abdul Hafidz tidak bisa lagi mencalonkan diri, peta politik di Kabupaten Rembang akan semakin dinamis.

“Pasangan Bupati dan Wakil Bupati hasil Pilkada ini kan hanya menjabat kira-kira 3,5 tahunan. Habis itu ada Pilkada serentak se Indonesia. Nah besok itu yang menurut saya akan jauh lebih ramai, “ pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *