Totalitas Syaiful, Perankan Meninggal Dunia & Dimasukkan Kantung Mayat
Syaiful Halim penuh totalitas, saat memerankan korban meninggal dunia, dalam simulasi penanggulangan bencana di Embung Sudo.
Syaiful Halim penuh totalitas, saat memerankan korban meninggal dunia, dalam simulasi penanggulangan bencana di Embung Sudo.

Rembang – Bagaimana rasanya ketika diminta memerankan korban meninggal dunia akibat tenggelam terseret banjir. Apakah tidak ingin tertawa, saat diangkat beramai-ramai oleh sejumlah orang ?

Nah..pengalaman unik ini dialami Syaiful Halim, pegawai Dinas Perhubungan, warga Desa Pamotan, Kecamatan Pamotan. Dalam kegiatan simulasi atau pelatihan penanggulangan bencana banjir di Embung Banyukuwung Sudo Kecamatan Sulang, hari Rabu (15/01) ia didaulat menjadi korban meninggal dunia.

Tak tanggung-tanggung, pria berusia 26 tahun tersebut, harus memperagakan bagaimana tenggelam di embung, kemudian diselamatkan oleh Tim SAR, menjalani proses identifikasi dan diangkat menuju tenda.

Solusi Keluhan Lambung

Syaiful Halim mengaku sudah bertahun-tahun menjadi relawan bencana, namun baru kali pertama ini memerankan korban meninggal dunia. Karena sudah perintah, ia langsung menyatakan siap dan tidak pernah menolak, apalagi harus iri dengan peserta simulasi lainnya. Pria satu anak ini sebatas berharap tidak sampai terjadi bencana semacam itu di Kabupaten Rembang.

“Korban meninggal dunia ya termasuk peran utama mas. Nggak udur-uduran saat ditunjuk. Dari Polres memerintahkan untuk tim penyelam dan korban meninggal dunia dari Dishub, ya saya siap, “ ujarnya.

Lalu bagaimana rasanya, ketika diangkat dari dalam embung, kemudian diambil sidik jarinya oleh Tim Identifikasi Polres Rembang dan adegan menegangkan, Syafiul Halim dimasukkan ke dalam kantong mayat, pria asli Desa Kalitengah Kecamatan Pancur tersebut, menambahkan antara senang dan tidak.

Senang, karena diangkat beramai-ramai. Bahkan ia sempat ingin tertawa, karena tim penyelam dan tim penyelamat yang bertugas menggotong, adalah rekan-rekannya sendiri. Tidak senang, karena ia sempat membayangkan apabila bencana semacam itu terjadi.

“Dari waktu pencarian, penyelaman, korban ketemu sampai dibawa ke tenda, kira-kira ya 10 menit. Saya berusaha menjiwai peran sebagai mayat korban tenggelam. Rasanya juga pengin tertawa, tapi saya tahan mas, “ imbuhnya.

Syaiful Halim sendiri sebelumnya aktif di Unit Bantu Pertolongan Pramuka (Ubaloka). Ia pernah diterjunkan membantu korban bencana gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Tsunami Banten dan lokasi jatuhnya pesawat Lion Air di Karawang, Jawa Barat. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *