Mudal Tak Sebesar Dulu, PDAM Sebut Terkait Gunung Lasem
Tembok sumber air Mudal Pamotan saat dilukis mural oleh para pemuda, tahun 2019 lalu. (FB Pamotan).
Tembok sumber air Mudal Pamotan saat dilukis mural oleh para pemuda, tahun 2019 lalu. (FB Pamotan).

Rembang – Mata air Mudal di Dusun Mudal Desa Pamotan, Kecamatan Pamotan diyakini pangkal sumbernya berasal dari kawasan Pegunungan Lasem. Ketika saat ini debet airnya menyusut drastis, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kab. Rembang menyimpulkan perlu ada perbaikan lingkungan di Pegunungan Lasem, yang menjadi daerah hulu mata air Mudal – Pamotan.

Direktur PDAM Rembang, Muhammad Affan, Senin (13 Januari 2020) menjelaskan pihaknya pernah menerima hasil penelitian seorang ahli, bahwa sumber air Mudal, pangkalnya berasal dari Gunung Lasem. Artinya, jika ada upaya menata lingkungan, maka idealnya dipusatkan di Gunung Lasem.

“Perbaikan lingkungan ya di daerah hulu, bukan di daerah hilir, tempat keluarnya mata air. Kita sedang mencari solusinya seperti apa, karena PDAM nggak bisa gerak sendiri, “ kata Affan.

Menurut Affan, meski saat ini curah hujan sudah meningkat, tetapi debet air di sumber Mudal – Pamotan belum naik secara signifikan. Hal itu hampir sama seperti ketika musim penghujan tahun lalu.

“Kalau kita melihat trend hujan tahun kemarin dikaitkan dengan peningkatan debet air di Mudal, ya belum signifikan, “ imbuh pria asli Pamotan ini.

Saat disinggung apakah aktivitas penambangan ikut berpengaruh terhadap menurunnya sumber air Mudal, Affan menilai perlu ada penelitian secara komprehensif.

Affan memperinci debet air Mudal saat ini tinggal 17 liter per detik, padahal sebelumnya mencapai 35 liter per detik. Dampaknya, area pelayanan yang dipasok dari sumber Mudal hanya diperuntukkan bagi pelanggan PDAM di sepanjang Jl. Pemuda sampai wilayah Tawangsari, Rembang. Itu pun masih harus digilir. Khusus kawasan Genengrejo, Tawangsari dan Sumberejo dekat hidran kebakaran masih sulit teraliri.

Sedangkan wilayah Dusun Bagel Desa Mondoteko, Perumahan Griya Santoso dan sepanjang Jl. Slamet Riyadi yang semula dialiri sumber Mudal, kini dialihkan dari Instalasi Pengolahan Air Gunungsari, Kaliori yang sumber air bakunya menyedot Embung Banyukuwung. Jika hanya mengandalkan sumber Mudal, dipastikan tidak akan mampu.

“Yang digilir pasokan dari sumber Mudal, sedangkan dari Bagel ke utara sampai Jl. Slamet Riyadi, disuplai dari instalasi Gunungsari. Jadi efek menurunnya sumber Mudal sangat terasa, “ tandasnya.

Terkait pantauan embung pasca peningkatan curah hujan, baru Embung Grawan Kecamatan Sumber dan Embung Lodan Kec. Sarang yang mengalami kenaikan cadangan air baku, sedangkan Embung Jatimudo Kec. Sulang dan Embung Banyukuwung Sudo belum begitu banyak perubahan. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *