Pemkab Diingatkan Soal Deteksi Dini Tanah Longsor, Khawatir Tidak Berfungsi
Alat deteksi dini tanah longsor di Dusun Manggarsuwung, Desa Bendo. (Foto atas) Desa di Kec. Sluke yang rawan longsor.
Alat deteksi dini tanah longsor di Dusun Manggarsuwung, Desa Bendo. (Foto atas) Desa di Kec. Sluke yang rawan longsor.

Rembang – Curah hujan yang terus meningkat di Kabupaten Rembang, perlu diimbangi dengan kesiapan alat deteksi dini bencana tanah longsor. Lokasi yang telah dipasangi piranti tersebut harus ada pengecekan rutin, agar sistem deteksi dini dipastikan tetap berfungsi.

Nadhif Sidqi, Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Rembang, menyampaikan masalah itu, Jum’at (10 Januari 2020). Ia mencontohkan alat deteksi dini tanah longsor terpasang di Dusun Manggarsuwung Desa Bendo Kecamatan Sluke, yang merupakan bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Pendeteksi tanah longsor akan mengeluarkan bunyi layaknya sirine, apabila terdapat rekahan tanah yang semakin melebar pada titik tempat dipasangnya alat tersebut, sehingga berfungsi sebagai tanda akan datang bencana.

“Kami berharap kepada Pemkab Rembang melalui BPBD agar alat deteksi dini atau EWS tanah longsor ini kembali dicek fungsinya. Jangan sampai pendeteksi ini diketahui tidak berfungsi ketika terjadi bencana longsor,” ujar Nadhif.

Tidak hanya memeriksa kembali kelayakan fungsi, Nadhif juga berharap Pemkab menambah alat deteksi dini bencana longsor, guna ditempatkan di daerah rawan. Diantaranya, Kecamatan Sedan, Sale, Gunem, Kragan, Lasem, dan Pancur.

“Di kecamatan-kecamatan tersebut, cukup banyak permukiman penduduk pada bukit yang tingkat kemiringannya mengkhawatirkan. Diperparah lagi, ada sejumlah batu berukuran raksasa, yang sewaktu-waktu bisa meluncur ke bawah, jika curah hujan terus meningkat,” tandasnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang, Pramujo menyatakan alat deteksi dini tanah longsor di Dusun Manggarsuwung masih berfungsi.

“Insyaallah masih berfungsi. Pernah pula kita cek di sana. Kami sadar peralatan tersebut manfaatnya besar. Ketika ada rekahan tanah yang membahayakan, terdengar suara meraung-raung. Warga bisa langsung lari menyelamatkan diri, “ kata Pramujo.

Pramujo menimpali kesiapsiagaan masyarakat di bawah perbukitan juga harus ditingkatkan, saat cuaca ekstrim. Upaya antisipasi penting, agar tidak menimbulkan korban jiwa saat bencana melanda.

“Bencana memang sulit diprediksi. Namun jika hujan deras 2 jam misalnya, warga di bawah bukit mohon mengungsi dulu ke tempat yang aman, “ urainya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *