Pedagang Non Mitra Menerobos, Bisa Ganggu Hubungan
Suasana petani menyetor tembakau di gudang PT. Sadana Arif Nusa, Jl. Rembang – Blora.
Suasana petani menyetor tembakau di gudang PT. Sadana Arif Nusa, Jl. Rembang – Blora.

Rembang – Banyaknya pedagang gelap membeli tembakau petani di Kabupaten Rembang, menyisakan dua sisi yang berbeda.

Satu sisi, tembakau hasil panen ditolak oleh perusahaan mitra, PT. Sadana Arif Nusa, entah karena alasan masih basah atau daun berwarna hitam. Di sisi lain, petani terikat perjanjian kerja sama dengan Sadana.

Sodiqin, seorang petani tembakau mengatakan kalau tembakau dibawa pulang dan lain hari dikembalikan ke gudang Sadana, khawatir akan ditolak lagi. Selain rugi ongkos transportasi, juga rugi waktu dan tenaga.

Akibatnya, ada petani yang terpaksa nekat menjual daun tidak laku tersebut kepada pihak lain. Meski sebenarnya hal itu dilarang oleh PT. Sadana Arif Nusa. Petani hanya ingin hasil panen laku.

“Petani kan maunya uang, kalau nanti nggak diterima lagi kan susah. Itu ada perantara-perantara yang mau beli daun tembakau yang tidak dibeli Sadana. Harga lumayan. Kabarnya mereka juga berasal dari Jawa Timur. Tapi kalau ketahuan sama Sadana, petani ya bisa dicoret dan tahun depan nggak boleh ikut nanam tembakau lagi, “ imbuh Sodiqin.

Sodiqin menganggap secara umum kerja sama dengan PT. Sadana Arif Nusa sudah terjalin baik. Nilai pendapatan petani juga cukup menjanjikan. Jika dirata-rata tahun ini, apabila petani menggarap lahan tembakau seperempat hektar, pendapatan kotor yang diperoleh mencapai Rp 30 an Juta. Begitu dikurangi dengan biaya produksi, pendapatan bersih sekira Rp 15 Juta.

“Jadi separuh-separuh, antara pendapatan sama pengeluaran. Tentu tergantung kondisi tanaman mas. Lemu-lemu apa kuru. Bagi petani kalau ditanya, ya tembakau ini merupakan tanaman yang belum ada bandingannya. Cuma orang kerja itu kan ya nyari barokahnya juga. Masak semua mau nanam tembakau. Kalau nggak punya jerami, sapi juga akan lesu, “ terangnya sedikit bercanda.

Diminta tanggapannya, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kecamatan Bulu, Wawan Edi Susanto mengaku sedikit was-was belakangan ini.

Wawan menyebut masuknya pedagang non mitra ke Kabupaten Rembang, bisa menjadi bom waktu di kemudian hari. Mereka mempunyai tenaga yang keliling dari satu desa ke desa lain, untuk membeli tembakau petani yang ikut kemitraan dengan Sadana.

“Jujur saja ya nggak enak sama Sadana. Mereka yang merintis, masak pedagang lain ingin menikmati hasilnya. Kondisi ini cukup mengganggu hubungan petani dengan Sadana, “ kata Wawan.

Ia mencontohkan dari luas lahan tembakau sekira 4 ribu hektar, kalau diasumsikan per hektar menghasilkan 2 ton, maka totalnya terdapat 8 ribu ton tembakau. Tapi kenyataannya, sekarang sudah melebihi kapasitas. Saat berbincang dengan perwakilan Sadana, mereka juga khawatir jumlah tembakau yang terserap tidak sesuai target. Petani mencemaskan hal itu, jangan sampai menjadi dasar Sadana untuk mengurangi luasan lahan tembakau pada tahun depan.

“Produksi petani dan perilaku petani tahun ini biasanya dievaluasi, untuk bahan tahun depan. Maka petani juga perlu mengevaluasi, apakah pernah melanggar perjanjian dengan Sadana atau tidak. Kalau iya, segera hentikan. Tapi semoga saja nggak terlalu berdampak pada kelangsungan petani, “ tandasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *