Pilkades Tanpa Money Politics : Yang Lain Banyak Habiskan Uang, Kades Terpilih Ini Justru Disumbang
Kusriyanto, calon Kades terpilih di Desa Pandean, Rembang selama ini dikenal dekat dengan masyarakat.
Kusriyanto, calon Kades terpilih di Desa Pandean, Rembang selama ini dikenal dekat dengan masyarakat.

Rembang – Ditengah banyaknya dugaan politik uang selama pemilihan kepala desa (Pilkades), ada sebuah desa di Kabupaten Rembang yang justru terang-terangan menolak politik uang. Jika terbukti, calon langsung didiskualifikasi dan tidak akan dilantik.

237 desa di Kabupaten Rembang, telah selesai menggelar Pilkades serentak. Dari ratusan desa tersebut, nama Desa Pandean, Kecamatan Rembang Kota tiba-tiba melejit dan menjadi perhatian masyarakat, setelah mengadakan ikrar Anti Politik Uang. Kondisi ini seakan-akan bertolak belakang dengan desa-desa lain pada umumnya yang mengarah praktek jual beli suara. Bahkan ada yang berani menyogok pemilih antara ratusan ribu hingga Rp 1 juta per orang.

Berawal dari rasa keprihatinan, tiap pesta demokrasi selalu diwarnai perang bagi-bagi uang, panitia Pilkades Desa Pandean tergerak membuat gebrakan. Mereka menginginkan Pilkades berlangsung demokratis, sehat dan bersih.

Gayung pun bersambut. Niat panitia Pilkades mendapatkan dukungan calon kepala desa, lembaga desa dan tokoh masyarakat. Termasuk dari Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang mempelopori gerakan anti money politics tersebut. Mereka kemudian bersama-sama menandatangani kesepakatan anti politik uang.

Ketua Panitia Pilkades Desa Pandean, Kusmin membeberkan tidak hanya dalam bentuk membagi uang, tetapi calon kepala desa juga dilarang mendirikan pos pemenangan, tidak boleh memberikan makanan dan minuman kepada pemilih sebelum berangkat nyoblos, serta tidak menyediakan sarana transportasi untuk antar jemput pemilih. Jika calon Kades melanggar, maka sanksinya siap tidak dilantik menjadi kepala desa.

“Kami sadar Indonesia butuh persatuan dan kesatuan. Kita ingin awali dari lingkungan kecil, pemerintahan desa dulu. Dari awal sampai akhir pemilihan, biar warga di sini tetap rukun. Anti politik uang ini, juga sebagai salah satu cara menjaga kebersamaan, “ tuturnya.

Pilkades Desa Pandean diikuti dua orang calon, masing-masing Kaseri, dulu pernah menjadi Kades Pandean. Ia meraup 279 suara. Calon lain, Kusriyanto mendulang suara telak 827 suara, sehingga ditetapkan sebagai pemenang. 18 surat suara dinyatakan tidak sah. Begitu menang, Kusriyanto diarak menggunakan becak, dari balai desa menuju rumahnya di ujung timur Desa Pandean, berbatasan dengan Desa Sukoharjo.

Kusriyanto mengaku tidak mengeluarkan sepeserpun untuk uang saku pemilih. Justru dirinya menerima bantuan dari masyarakat, paling banyak berupa makanan dan minuman. Ia pribadi tidak sanggup, kalau harus mengeluarkan uang untuk membeli suara pemilih, karena kondisi ekonominya pas-pasan. Di rumah, Kusriyanto membuka usaha percetakan kecil-kecilan.

“Kalau melekan, jajan hasil sumbangan gotong royong warga. Saya juga nggak pernah dimintai uang dari warga. Waktu bentuk tim, warga malah bilang jangan sampai membebani saya. Pokoknya sehemat mungkin. Saya nggak mungkin kuat beli suara warga mas. Jangankan sampai jutaan, Rp 50 ribu saja berat. Kerja saya ya begini-begini saja kok, “ kata Kusriyanto tertawa.

Lantaran sudah mendapatkan dukungan sedemikian rupa, Kusriyanto berjanji tidak akan mengingkari amanah yang diberikan masyarakat.

“Waktu ada ikrar kalau bagi uang, akan didiskualifikasi, saya langsung tanda tangan. Kan masyarakat yang minta saya maju, insyaallah masyarakat selalu bersama saya, bareng-bareng memajukan Desa Pandean, “ tandas pria berusia 49 tahun ini.

Lalu bagaimana tanggapan masyarakat ? Sejumlah warga Desa Pandean yang kami temui membenarkan tidak menerima uang sama sekali, supaya mau datang ke tempat pemungutan suara (TPS).

Retno Dumilah, seorang warga Desa Pandean mengatakan pilihan ditentukan murni berdasarkan hati nurani masing-masing. Ia berpesan kepada calon terpilih, untuk semakin memajukan Desa Pandean.

“Warga ya senang bangga, sosok pak Kusriyanto ini kan baik, jujur, supel sama masyarakat. Saya nggak mikir masalah uang, mikirnya yang mau dicoblos orangnya baik gitu aja. Pesannya sama pak Kus, Desa Pandean akan lebih baik, “ kata Retno.

Meski tanpa embel-embel uang, namun partisipasi pemilih di Desa Pandean, Rembang tergolong tinggi. Dari jumlah daftar pemilih tetap (DPT) 1.447 orang, 1.124 pemilih menggunakan hak suaranya. Usai coblosan, calon maupun pendukung calon tetap larut dalam nuansa kebersamaan, meski mereka sempat berbeda pilihan. Tak ada ketegangan, apalagi situasi memanas.

Semangat bersih-bersih dari Desa Pandean ini, diharapkan nantinya bisa menular ke desa-desa lain. Nah..hayoo, desa mana yang akan menyusul berikutnya ? (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *