Pilkades Sudah Usai, Warga Permasalahkan Data Pemilih
Warga Desa Sendangmulyo, Kec. Sluke mendatangi Kantor Kecamatan Sluke, Jum’at (08/11).
Warga Desa Sendangmulyo, Kec. Sluke mendatangi Kantor Kecamatan Sluke, Jum’at (08/11).

Sluke – Pasca pemilihan kepala desa (Pilkades), ratusan warga Desa Sendangmulyo, Kecamatan Sluke, Jum’at pagi (08 November 2019) mendatangi Kantor Kecamatan Sluke. Mereka mempermasalahkan kevalidan daftar pemilih tetap (DPT) Pilkades, setelah hasil Pilkades di desa tersebut antara calon terpilih dengan calon yang kalah, hanya terpaut 3 suara.

Diduga ada sejumlah warga yang sudah pindah dari Desa Sendangmulyo, masih nyoblos di Desa Sendangmulyo, pada saat Pilkades hari Rabu, tanggal 06 November lalu.

Soleh, seorang warga Desa Sendangmulyo, Kecamatan Sluke menganggap peran desa dengan panitia Pilkades saling berkaitan dalam menyusun daftar pemilih tetap (DPT). Ia beralasan panitia menerima data pemilih dari pihak desa.

“Kalau ditanya protes sama panitia Pilkades atau desa, ya dua-duanya. Soalnya yang ngasih data pemilih panitia kan desa, “ kata Soleh.

Saat berada di Kantor Kecamatan Sluke, masyarakat enggan mengatasnamakan pendukung dari salah satu calon. Perwakilan warga kemudian melakukan musyawarah bersama panitia Pilkades Sendangmulyo, panitia pengawas di tingkat kecamatan dan tim pengarah kabupaten. Ketua panitia Pilkades Sendangmulyo, Supriyono Untiyanto membeberkan jumlah DPT di kampungnya mencapai 1.714 orang. Ketika ada warga yang sudah pindah masih ikut nyoblos, menurutnya panitia tidak pernah mendapatkan perkembangan informasi lalu lintas keluar masuk warga, dari pemerintah desa.

“Kami tidak tahu kalau mereka mendaftar di lain tempat, itu urusan yang bersangkutan yang menggunakan sendiri. Kami tidak bertanggung jawab untuk itu, “ ujarnya.

Sementara itu, Camat Sluke, Haryadi menanggapi panitia Pilkades sudah menjalankan tahapan sesuai prosedur. Data pemilih saat Pemilu Legislatif lalu menjadi daftar pemilih sementara (DPS). Daftarnya dipasang ke titik-titik strategis, untuk mendapatkan tanggapan dari masyarakat maupun para calon.

Setelah itu, baru ditetapkan menjadi daftar pemilih tetap (DPT). Selama menjadi DPS maupun DPT, tidak pernah ada komplain dari siapapun.

“Saat jadi DPS, baik dibaca atau tidak kemudian ditetapkan jadi DPT. Kan sudah ada sosialisasi. Kedatangan warga kita terima dengan baik, kita jelaskan semua. Kan sudah ditetapkan di DPT nggak ada protes, ya cukup, “ ungkap Camat.

Apabila warga masih belum puas, pihaknya tidak masalah jika warga maupun calon Kades ingin menempuh jalur hukum.

“Kalau tidak mau menerima hasil Pilkades, itu kan hak, monggo terserah. Mau dituntut di Pengadilan atau bagaimana, “ imbuhnya.

Setelah menerima penjelasan dari pihak kecamatan, massa dari Desa Sendangmulyo membubarkan diri. Sebelumnya, Pilkades Sendangmulyo diikuti 3 orang calon. Calon nomor urut 1 Kusaeri mendapatkan 602 suara, calon nomor urut 2 Asmuni 605 suara dan calon nomor urut 3 Sa’roni mendulang 257 suara. Persaingan antara Kusaeri dengan Asmuni tergolong sangat ketat, lantaran hanya terpaut 3 suara. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *