Pilkades : 12 Desa Masuk Kategori Rawan, Apa Indikatornya ?
Mobil polisi dari Polres Demak ikut mengamankan jalannya Pilkades di Kab. Rembang. (Foto atas) Bupati Rembang, Abdul Hafidz memeriksa barisan pasukan, Selasa (05/11).
Mobil polisi dari Polres Demak ikut mengamankan jalannya Pilkades di Kab. Rembang. (Foto atas) Bupati Rembang, Abdul Hafidz memeriksa barisan pasukan, Selasa (05/11).

Rembang – Polres Rembang memetakan 12 desa masuk kategori rawan dalam pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak, hari Rabu (06 November 2019). Ke 12 desa tersebut menyebar di 9 kecamatan.

Kepala Bagian Operasional Polres Rembang, Kompol Yohan Setiajid menyatakan penetapan 12 desa rawan, melewati pengumpulan bahan keterangan dari jajaran Polsek. Ada sejumlah indikator, kenapa masuk kategori rawan. Pertama, dalam ajang Pilkades lalu mempunyai riwayat pengalaman kerawanan tensi tinggi, kemudian petarung-petarung lama muncul kembali dan saling berhadapan. Indikator lain, ketika Pilkades lalu selisih suaranya sangat tipis, bahkan ada yang hanya selisih 1 suara.

“Sudah kami petakan yang rawan-rawan ini. Ketika Pilkades lalu selisih suaranya hanya 1 atau sangat tipis, sedangkan calon yang maju bertarung orangnya pemain lama, antara incumbent dengan yang dulu tidak jadi. Ibarat pertandingan ulang ini, kami prioritaskan pengamanan, “ tutur Yohan.

Yohan menambahkan dalam mengamankan Pilkades serentak, pihaknya dibantu 100 orang personel Brimob dan Dalmas Polda Jawa Tengah, kemudian Polres-Polres se eks Karesidenan Pati, masing-masing mengirimkan 30 orang personel. Setelah itu disebar ke 9 kecamatan yang rawan.

“Mereka stand bye di 9 Polsek, sewaktu-waktu bisa dikerahkan, apabila terjadi kerawanan, “ bebernya.

Di Mapolres Rembang sendiri juga siaga 1 satuan setingkat kompi atau 30 personel Power Hand, guna mengatasi gangguan keamanan. Menurutnya, pasukan yang bertugas mengamankan Pilkades dilarang membawa senjata api. Mereka hanya dibekali tongkat dan borgol, karena prosedur tetapnya seperti itu. Manakala terjadi kerusuhan, pemakaian senjata api adalah langkah terakhir.

“Semua ada tahapannya. Melalui peringatan lisan, kemudian tindakan tangan kosong, baru pakai alat Dalmas. Kok semakin rusuh dan membahayakan, senjata api dipakai sebagai langkah terakhir, itu pun peringatan dulu, “ imbuh Yohan.

Sementara itu, Selasa pagi (05 November 2019) berlangsung apel pergeseran pasukan pengamanan Pilkades di Alun-Alun Rembang. Kapolres Rembang, AKBP Dolly A. Primanto menyerukan kepada anggotanya tetap semangat dan menjaga netralitas Polri. Ia memastikan setiap saat akan mengecek kesiapan anggota di lapangan.

“Tolong betul-betul menjaga kekompakan. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, tingkah perilaku dijaga. Kalau belum waktunya selesai, jangan sampai buka baju. Saya akan cek dan akan saya catat, “ kata Kapolres.

Komandan Kodim Rembang, Letkol Andi Budi S menyatakan pihaknya siap memback up kepolisian, dalam mengamankan Pilkades. Selain anggota Babinsa yang siaga di desa, ada pula anggota khusus yang disiagakan di Makodim. Manakala tenaga mereka dibutuhkan, langsung diarahkan ke lokasi. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *