Belajar Dari Kegigihan Rita Wulansari, Sabet Juara Nasional Usai Lewati Depresi
Rita Wulansari menunjukkan sarung tinjunya. (Foto atas) Rita Wulansari menyabet juara I Nasional, dalam ajang Jambore Kesehatan Jiwa di Bangka Belitung.
Rita Wulansari menunjukkan sarung tinjunya. (Foto atas) Rita Wulansari menyabet juara I Nasional, dalam ajang Jambore Kesehatan Jiwa di Bangka Belitung.

Rembang – Perjalanan hidup Rita Wulansari (22 tahun), seorang petarung wanita dari Kabupaten Rembang, sungguh tak pernah disangka-sangka. Karena mengalami gegar otak ringan, ia sempat depresi dan harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Tapi berkat dari RSJ pula, Rita menyabet juara I tingkat nasional dalam ajang Jambore Kesehatan Jiwa.

Rita Wulansari tinggal di Dusun Dungombo Desa Sumberejo, Rembang. Ia merupakan petarung sekaligus pelatih tinju, kemudian menjajal bela diri Muay Thai. Sampai akhirnya ikut ajang One Pride yang ditayangkan salah satu TV nasional.

Pada pertandingan ketiga, Rita kalah dan mengalami gegar otak ringan. Setelah itu dalam waktu hampir bersamaan, ayahnya meninggal dunia, tahun 2017 silam. Beban yang terus menumpuk, membuat sikap Rita mulai berubah. Ia sering menangis dan marah-marah sendiri. Rita mengalami depresi, sehingga harus dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Amino Gondohutomo Semarang. Setelah 2 Minggu menjalani perawatan, Rita diperbolehkan pulang, karena kondisinya membaik. Hanya saja diminta oleh dokter untuk minum obat, maksimal sampai 3 tahun.

“Waktu alami gegar otak, saya tutupi. Namun akhirnya keluarga tahu, karena kelauan saya yang mendadak lain. Keluarga ngirim saya ke RSJ. Saya nggak malu pernah masuk RSJ, tapi ini merupakan bagian pengalaman berharga. Bisa ketemu dokter-dokter di sana, termasuk disarankan minum obat maksimal 3 tahun. Tapi kalau kurang dari itu ternyata sudah sembuh ya wallahualam, patuh dengan dokter saja mas, “ ujarnya.

Rita menambahkan selama berada di Rumah Sakit Jiwa Amino Gondohutomo Semarang, ia biasa bernyanyi. Kemungkinan bakat itu dilirik oleh dokter dan psikater yang menangani. Hingga ketika ada event Jambore Kesehatan Jiwa, untuk mantan pasien gangguan jiwa, Rita dikirim ke Bangka Belitung antara tanggal 02-05 Oktober 2019, mewakili RSJ Amino Gondohutomo Semarang.

Saat lomba menyanyi, Rita membawakan lagu wajib Laskar pelangi yang dipopulerkan Nidji dan Karena Cinta yang dipopulerkan Joy Tobing. Dari 30 an peserta se Indonesia, Rita berhasil menjadi juara I. Rita sendiri tak pernah menyangka, niat rehabilitasi malah berujung prestasi.

“Waktu ikut idol mantan pasien di Bangka Belitung ya grogi juga sich, panggungnya besar. Pesaingnya dari Sabang sampai Merauke. Saya anggap juara I ini sebagai berkah. Ada hikmah dibalik cobaan yang saya hadapi, “ ungkap Rita.

Rita sendiri memutuskan untuk gantung sarung tinju. Ia tak ingin menjadi atlet petarung lagi, tapi masih memiliki hasrat melatih. Keputusan tersebut didukung oleh ibundanya, Endang Hastutik. Endang beralasan khawatir dengan kondisi kesehatan Rita.

“Ya sudah jangan main lagi, apalagi ayahnya sudah nggak ada. Ibu sendiri. Kalau mau melatih, nggak apa-apa, “ ujarnya lirih.

Rita sementara ini tinggal bersama sang ibu dan adiknya. Ia masih memendam mimpi, suatu saat nanti mempunyai sasana sendiri, untuk mencetak bibit-bibit muda petarung yang mampu menorehkan prestasi. Diakui atau tidak, Rita pada masanya dulu sudah menghasilkan petarung yang membawa nama Kabupaten Rembang. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *