Mah Bos & Kisah Puluhan Orang Tewas Ditembak
Lokasi lahan Mah Bos di Desa Jatimudo, Kecamatan Sulang yang diyakini menjadi tempat kuburan massal korban penembakan.
Lokasi lahan Mah Bos di Desa Jatimudo, Kecamatan Sulang yang diyakini menjadi tempat kuburan massal korban penembakan.

Sulang – Sebuah lahan di pinggir jalan raya Sulang – Gunem, Kabupaten Rembang diyakini menjadi kuburan massal warga yang kala itu dianggap sebagai tokoh maupun simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI). Mereka dieksekusi dengan cara ditembak dan langsung dikubur di tempat tersebut, sekira tahun 1966 silam. Warga biasa menamakan aksi “dus-dusan”.

Senin siang (30 September 2019), saya mendatangi lahan yang terkenal dengan sebutan Mah Bos, singkatan dari lemah (tanah-Red) milik bos. Lahan tersebut milik Perhutani, sedangkan di sampingnya berhimpitan dengan lahan warga setempat. Posisinya berada di sebelah timur Desa Sulang atau selatan Desa Jatimudo. Namun secara administratif, ikut Desa Jatimudo. Di dekat Mah Bos ini banyak berjajar warung penjual legen dan buah siwalan.

Masyarakat sekitar mengetahui bahwa Mah Bos menjadi pusat eksekusi warga yang dianggap pengurus dan simpatisan PKI, dari cerita turun temurun sesepuh-sesepuh desa. Kebetulan masih ada seorang warga Desa Jatimudo yang menjadi saksi sejarah dibalik peristiwa menegangkan tersebut.

Jamari namanya. Ia menceritakan kala itu sekira pukul 17.00 Wib, sedang memanjat pohon siwalan di tengah kebun miliknya. Mendadak, dari kejauhan nampak ada sekelompok orang datang membawa cangkul, kemudian membuat lubang di lahan Mah Bos. Karena takut, Jamari pergi menjauh. Barulah sekira pukul 03.00 dini hari, dari dalam kampung terdengar suara serentetan tembakan, yang diduga untuk mengeksekusi para tokoh dan simpatisan PKI.

Keesokan harinya, pria yang sekarang berusia 79 tahun ini mendapatkan cerita langsung dari sang kakak, Alm. Sarwi. Sarwi kebetulan ikut membantu menurunkan warga yang akan dieksekusi dari atas truk. Mereka ditutup matanya, kemudian ditembak dengan posisi berdiri di dekat lubang dan langsung kubur di dua lubang, sisi utara dan timur lahan Mah Bos.

“Sebelum ditembak sebisa mungkin disuruh berucap, ya dzikir wiridan. Nggak tahu orang dari mana. Usai penembakan, ada warga datang ngecek ke situ. Banyak menemukan ceceran organ tubuh. “ kata Jamari dengan Bahasa Jawa.

Salah satu perangkat Desa Jatimudo, Kecamatan Sulang, Ruhadi mengutip kisah para sesepuh desa, ketika proses eksekusi berlangsung. Ternyata ada 1 orang yang ditembak berulang kali, namun tidak meninggal dunia. Pria kebal itu bahkan sempat kabur hingga ke Kabupaten Blora. Namun setelah diancam anggota keluarganya akan ikut dieksekusi, akhirnya yang bersangkutan datang menyerahkan diri.

Itu pun setelah membocorkan kelemahannya, yakni dengan cara dipukul menggunakan sebatang daun kelor. Pria tersebut akhirnya tewas tertembus peluru dan masuk ke dalam lubang yang telah disiapkan.

“Yang paling sering diceritakan ya pria kebal itu, tapi nggak tahu dari mana. Soalnya yang dieksekusi, nggak ada satupun warga Jatimudo. Sampai sekarang, lokasi ini nggak pernah ada yang berani membongkar, untuk membuktikan kebenaran di dalam tanah ada puluhan korban penembakan, “ terangnya.

Ruhadi menambahkan lahan Mah Bos tak seseram kisah tahun 1966 lalu. Kini Mah Bos berfungsi sebagai lahan pertanian dan perkebunan, seperti sawah-sawah di sekitarnya. Sama sekali tidak nampak sebagai kuburan massal. Warga setempat hanya sebatas menandai bahwa di lokasi itu, dulu pernah menjadi tempat eksekusi mati puluhan orang yang dicap sebagai PKI. Sebuah sejarah kelam, yang diharapkan jangan sampai terulang lagi pada masa mendatang. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *