Anak Meninggal Dunia Di Pinggir Pantai, Polisi Ungkap Dugaan Penyebabnya
Polisi bersama warga mengevakuasi jenazah korban di TKP belakang kantor Satpol Air & Pos AL Pelabuhan Tasikagung, Minggu (29/09).
Polisi bersama warga mengevakuasi jenazah korban di TKP belakang kantor Satpol Air & Pos AL Pelabuhan Tasikagung, Minggu (29/09).

Rembang – Seorang anak laki-laki meninggal dunia tenggelam di pinggir laut, tepatnya belakang kantor Satpol Air Pelabuhan Tasikagung Rembang, Minggu (29 September 2019) sekira pukul 06.00 Wib.

Korban teridentifikasi bernama Sidni Victori (14 tahun), warga Desa Waru, Kecamatan Rembang Kota. Sidni selama ini memiliki riwayat penyakit ayan atau epilepsi. Sebelum kejadian, yang bersangkutan diketahui berlari menuju pinggir pantai. Ada dugaan penyakit ayannya kambuh. Begitu masuk laut, Sidni yang tidak bisa berenang, akhirnya tenggelam tergulung ombak.

Komandan Satpol Air Polres Rembang, Iptu Sukamto ketika dikonfirmasi menjelaskan ada warga Desa Tasikagung yang merasa curiga, kemudian mengecek ke lokasi. Warga tersebut mengetahui ternyata korban sudah dalam kondisi tengkurap di atas permukaan air. Selanjutnya korban yang sudah meninggal dunia dibawa menuju kamar mayat rumah sakit dr. R. Soetrasno Rembang, guna pemeriksaan lebih lanjut.

“Anggota Satpol Air saat berada di belakang kantor, melihat kerumunan masyarakat. Begitu tahu ada anak tenggelam, ya langsung mendatangkan mobil ambulans, untuk membawa anak ini ke rumah sakit, “ tuturnya.

Iptu Sukamto menambahkan berdasarkan keterangan saksi dan hasil pemeriksaan dokter rumah sakit, pada jasad tubuh korban tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Penyebab meninggalnya Sidni Victori disimpulkan karena tenggelam di laut, akibat pengaruh kambuhnya penyakit epilepsi.

“Jadi nggak ada tanda-tanda penganiayaan atau kekerasan. Mulut korban banyak mengeluarkan busa. Murni akibat tenggelam di laut. Kalau lokasi situ, kedalaman kira-kira 2 Meteran, “ imbuhnya.

Setelah pemeriksaan oleh tim medis selesai, polisi menyerahkan jasad korban kepada perwakilan keluarga, untuk dimakamkan. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *