Petuah Untuk Alam, Dibalik Sasi Suro
Pegiat budaya Jawa di Rembang, Setiadji.
Pegiat budaya Jawa di Rembang, Setiadji.

Rembang – Sasi Suro bagi masyarakat Jawa, terutama di Kabupaten Rembang menjadi bulan pantangan untuk menggelar pentas hiburan orang punya kerja. Mulai dari kegiatan khitan maupun pernikahan, bahkan nyaris tidak ada.

Kenapa sampai seperti itu ? Ada mitos apa, sehingga mayoritas masyarakat seakan-akan menghindari sasi Suro ?

Seorang pegiat budaya Jawa di Rembang, Setiadji mengatakan di kalangan warga muncul semacam kepercayaan bahwa sasi Suro menjadi sarana pembersihan diri. Filosofinya, diberi waktu sebulan saja untuk membersihkan diri masih kesulitan, kenapa harus menggelar pentas hiburan yang berbau senang-senang.

Berlatar belakang hal itu, sasi Suro sejak dulu sampai sekarang hampir steril dari orang punya kerja yang nanggap hiburan tayub, kethoprak, dangdut atau sejenisnya. Sebuah tradisi turun temurun yang sudah melekat dan menurutnya akan sangat sulit dirubah.

“Membersihkan dirinya sendiri saja sulit, kenapa harus ketemu sama suasana yang bisa membuat dia lupa. Makanya sasi Suro, sangat jarang kita temukan orang punya kerja. Ibaratnya sudah sajiwo saliro, tidak bisa dirubah, “ ujarnya.

Lalu bagaimana jika dilanggar ? Setiadji yang menjabat sebagai Kepala Seksi Pengembangan Kawasan Wisata Dan Daya Tarik Wisata pada Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Rembang ini menganggap ketika seseorang nekat punya kerja dan nanggap hiburan pada sasi Suro, bukan berarti memicu dampak buruk. Tetapi ia berpandangan orang tersebut akan merasa bersalah dengan dirinya sendiri, lantaran menabrak sebuah tradisi Jawa.

“Kalau dilanggar, bukan kok orangnya jadi apa. Dia akan merasa bersalah dengan dirinya sendiri. Makanya orang Jawa ngajeni saleraning pribadi. Kalau nggak kita yang menghormati, siapa lagi. Kalau dia merasa akan melanggar, akhirnya nggak akan melanggar. Mempertahankan dengan sendirinya, “ imbuhnya.

Setiadji menambahkan Suro berarti wani atau berani. Berani hidup maka harus berani pula menjalani. Di dalamnya mengandung maksud petuah-petuah positif, kasih sayang kepada sesama seperti halnya menyayangi diri sendiri. Kemudian sebaik mungkin memperlakukan alam yang meliputi angin, air, bumi dan api, sebagai wujud rasa syukur atas terciptanya alam ini. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *