Ini Dia, Dua PR Yang Akan Ditangani Lebih Intens Oleh Satpol PP
Petugas Satpol PP memberikan peringatan lisan kepada PKL yang menutupi trotoar di Lasem. (Foto atas) Petugas Satpol PP merazia anak punk di sekitar Perempatan Galonan.
Petugas Satpol PP memberikan peringatan lisan kepada PKL yang menutupi trotoar di Lasem. (Foto atas) Petugas Satpol PP merazia anak punk di sekitar Perempatan Galonan.

Rembang – Masalah pedagang kaki lima (PKL) di Kecamatan Lasem yang semrawut menutupi trotoar dan banyaknya anak punk berkeliaran, menjadi 2 pekerjaan rumah yang akan ditangani secara intensif oleh Satpol PP Kabupaten Rembang.

Sepanjang hari Kamis (29/08), petugas Satpol PP melakukan giat penertiban PKL di Kecamatan Lasem dan razia anak punk di kawasan dalam Kota Rembang.

Kepala Bidang Ketertiban Umum Ketentraman Masyarakat Dan Penegakan Perda Satpol PP Kabupaten Rembang, Teguh Maryadi menyatakan penertiban pedagang kaki lima di Kecamatan Lasem tidak langsung melakukan pembongkaran lapak tempat berjualan. Tetapi pihaknya melakukan pendekatan secara persuasif terlebih dahulu, sekaligus menyosialisasikan Peraturan Daerah yang baru. Misinya, menyadarkan pedagang bahwa akses trotoar diperuntukkan bagi pejalan kaki.

Perkiraan lebih dari 100 orang pedagang memanfaatkan trotoar di Kecamatan Lasem. Setelah ada peringatan lisan, Teguh berharap mereka mau membongkar sendiri lapak dagangan, tanpa harus dibersihkan petugas Satpol PP.

“Tim dipecah jadi 2. Yang satu dari Masjid Lasem ke selatan, sedangkan satunya lagi dari Masjid ke timur dan barat. Kita kasih peringatan lisan dulu, pendekatannya masih persuasif. Belum ada pembongkaran lapak, tapi kami ingin menyentuh lewat pendekatan dulu, “ kata Teguh.

Selain menangani masalah PKL di Lasem, Satpol PP juga mengoperasi anak punk di kawasan dalam Kota Rembang. Total ada 9 anak punk terjaring, mereka dipergoki sedang nongkrong di pertigaan lampu bangjo jurusan rumah sakit dr. R. Soetrasno dan perempatan Galonan. Setelah pendataan, diketahui anak punk ini berasal dari Kabupaten Demak dan sejumlah daerah di Jawa Barat.

Usai pembinaan, petugas Satpol PP dibantu aparat kepolisian selanjutnya menitipkan anak punk ke atas truk yang melintas di jalur Pantura, supaya mau kembali pulang ke daerah asal.

“Yang di pertigaan lampu jurusan rumah sakit, dari 3 orang, 2 diantaranya cewek. Lha yang di Galonan ada 6 orang, masing-masing 1 cewek dan 5 cowok. Sempat kita bawa ke Dinas Sosial, “ tandasnya.

Teguh membenarkan PKL menutupi trotoar maupun anak punk, kedepan akan menjadi prioritas penanganan rutin. Tapi menurutnya akan lebih efektif jika seluruh dinas terkait dan masyarakat, bersama-sama turun tangan. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *