Biaya Operasional Petani Tembakau Membengkak, Berharap Harga Naik
Petani tembakau harus menyediakan pasokan air yang cukup, di tengah panas ekstrim seperti saat ini.
Petani tembakau harus menyediakan pasokan air yang cukup, di tengah panas ekstrim seperti saat ini.

Sumber – Petani tembakau di Kabupaten Rembang berharap, harga tembakau pada musim panen ini bisa meningkat. Salah satu alasannya, karena biaya pengeluaran petani semakin membengkak, akibat tidak ada hujan dan harus membeli air.

Tokoh petani tembakau di Kecamatan Sumber, Marjuki menjelaskan kalau petani tanam tembakau bulan April lalu, rata-rata pertumbuhan tanaman masih bagus. Mengingat, kondisi tanah tidak terlalu kering. Tapi yang ditanam pada bulan Mei atau sesudahnya, perkembangan tembakau terhambat dan kerdil.

Menurutnya, kondisi cuaca yang panas terik seperti sekarang, dikhawatirkan menurunkan hasil panen. Jika cuaca normal, setiap hektar mampu menghasilkan daun tembakau bobot 3 ton, tetapi begitu tidak ada hujan sama sekali seperti sekarang, diprediksi merosot kurang dari 2 ton.

“Yang bagus itu, kalau pas mau tanam turun hujan sekali dua kali. Misalnya wilayah Sulang ke barat itu tanaman bagus-bagus, karena sempat turun hujan di sana. Tapi kalau hujan terlalu sering, juga nggak bagus, “ ungkapnya.

Marjuki menimpali untuk menyiasati kondisi cuaca, petani harus rutin membeli air. Setiap rit, harganya antara Rp 120 – 140 ribu. Dalam seminggu, rata-rata membutuhkan pasokan air dua rit, tergantung lebar sempitnya lahan. Karena biaya usaha tani membengkak, pria warga Desa Tlogotunggal, Kecamatan Sumber ini berharap nantinya diimbangi dengan kenaikan harga tembakau. Sesuai jadwal, hasil panen tembakau mulai disetor ke perusahaan mitra, di Desa Kemadu Kecamatan Sulang tanggal 09 Agustus mendatang.

“Petani membuat terpal penampung air di dekat lahan. Ada yang ukuran 4 x 6 atau 6 x 8 meter. Penginnya sich harga tembakau naik, semoga dipertimbangkan oleh perusahaan mitra. Kalau nggak naik, bisa jadi petani hanya balik modal atau kalau pun untung ya sedikit, “ imbuh Marjuki.

Luas tanaman tembakau di Kabupaten Rembang pada musim tanam 2019 ini mencapai 3.500 Hektar, sedangkan musim tahun lalu menembus 5 ribu hektar. Pengurangan luas lahan terjadi, setelah petani Rembang mendapatkan sanksi dari perusahaan mitra, karena alasan tembakau tercampur plastik cukup tinggi. Di sisi lain kandungan nikotin pada tembakau justru rendah. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *