Kolaborasi Kamera HP Dan Lampu Senter, Hasilkan Foto Menawan
Hasil bidikan pecinta fotografi malam hari di Jembatan Merah Hutan Bakau Pasar Banggi, Rembang.
Hasil bidikan pecinta fotografi malam hari di Jembatan Merah Hutan Bakau Pasar Banggi, Rembang.

Rembang – Pera pecinta fotografi umumnya lebih sering mengambil obyek gambar pada pagi, siang atau sore hari. Namun di Kabupaten Rembang ada komunitas pecinta fotografi yang justru “kesengsem” dengan suasana malam hari di kawasan obyek wisata. Melalui trik-trik khusus, jepretan mereka bahkan mampu menghasilkan karya foto yang sangat menarik.

Nur Rohmad, salah satu pecinta fotografi malam hari mengakui pihaknya memang ingin mencoba aliran baru. Selain itu, juga untuk mengeksplore tempat wisata di Kabupaten Rembang pada waktu malam hari. Ia sendiri bersama sejumlah model sempat melakukan aktivitas pemotretan di jembatan merah obyek wisata hutan bakau Dusun Kaliuntu Desa Pasar Banggi, Rembang.

“Kurang lebih ya ada 10 an orang ikut motret di situ. Mencoba genre baru di Rembang. Sebelumnya, temen-temen yang lain datang ke Desa Punjulharjo. Kebetulan ada bekas bangunan cerobong garam, pas untuk foto-foto, “ terangnya.

Solusi Keluhan Lambung

Yang menarik, komunitas ini rata-rata mengambil obyek gambar dengan menggunakan kamera HP.

Nur Rohmad menambahkan untuk memunculkan sensasi cahaya warna warni di belakang model, ada personel yang ditugasi secara khusus memegangi dan menggerak-gerakkan lampu senter. Setelah disetting sedemikian rupa dengan peralatan seadanya, hasil foto memiliki nuansa berbeda. Begitu dishare ke media sosial, menurutnya cukup banyak tanggapan positif dan penasaran ingin bergabung.

“Yang warna warni itu asli, menggunakan tekhnik slow speed, pakai lampu senter. Yang pegang senter, biasanya nyari posisi yang terhalang, biar nggak kelihatan saat difoto. Rata-rata pakai kamera HP kok. Nggak perlu HP mahal, asal ada fasilitas pengaturan, bisa disetting, “ imbuh pria yang kerap disapa Somad ini.

Upaya coba-coba di kalangan pecinta fotografi malam, menurutnya memiliki tantangan tersendiri. Kadang kala ada warga setempat merasa curiga, kenapa malam-malam datang ke tempat wisata. Mereka yang kebetulan belum tahu, kemudian datang “ngluruk”. Namun setelah dijelaskan kegiatan yang dilakukan, akhirnya warga pun mau memahami. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *