Dakwah Unik, Seusai Pengajian Jemaah Rebutan Air
Jemaah berebut air seusai pengajian di Desa Megulung, Kec. Sumber. (foto atas) Gus Imm memainkan seruling di tengah-tengah dakwah.
Jemaah berebut air seusai pengajian di Desa Megulung, Kec. Sumber. (foto atas) Gus Imm memainkan seruling di tengah-tengah dakwah.

Sumber – Pengajian yang satu ini cukup unik dan terasa lain dibandingkan pengajian umum pada umumnya. Jemaah yang datang, identik mengenakan pakaian serba hitam. Selain itu, menjelang pengajian selesai, jemaah saling berebut air.

Yah..begitulah sekelumit pengajian Perahu Kanjeng Jagat Sholawat yang dimotori oleh Imam Mahmudi Nabillah atau lebih dikenal dengan panggilan Gus Imm dari Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Gus Imm kebetulan pada Rabu malam (12/06) mengisi pengajian di Desa Megulung, Kecamatan Sumber, saat ada warga punya kerja.

Penampilan Gus Imm tergolong nyentrik. Rambutnya gondrong, tanpa memakai peci atau bahkan surban. Pakaian atas bawah semua hitam. Saat berdakwah, tidak hanya tausiyah tentang Islam, tetapi lebih banyak melalui syair-syair lagu dan sholawat, yang diiringi group musik kontemporer Perahu Kanjeng. Gus Imm juga berulang kali menunjukkan kebolehannya memainkan seruling.

Keunikan lain, selama Gus Imm berdakwah, di depan panggung terdapat air di dalam wadah khusus. Begitu pengajian akan selesai, Gus Imm memimpin do’a. Tak berselang lama, Gus Imm mengeluarkan sebilah keris kecil dan dicelupkan ke dalam air. Dalam waktu singkat, air menjadi sasaran rebutan ratusan jemaah yang hadir dari berbagai daerah.

Sunardi, seorang jemaah yang datang dari Dusun Ngumpleng Desa Gunungsari Kecamatan Kaliori menuturkan air digunakan untuk membasuh muka, bahkan ada pula yang langsung diminum. Mereka percaya air yang dido’akan tersebut ada berkahnya, tentu atas seizin Allah SWT.

“Seperti itu sudah jadi kebiasaan mas, habis dido’akan oleh Gus Imm, air langsung diserbu. Insyalllah ada berkahnya, atas izin Allah. Yang datang nggak dari sini saja lho, waktu di Megulung itu dari luar daerah banyak. Ada yang datang dari Karanganyar, “ beber Sunardi.

Sunardi menambahkan khusus atribut jemaah memang identik memakai pakaian serba hitam dan kaum pria mengenakan blangkon. Hal itu menandakan meski cinta Islam dan senang bersholawat, tapi tidak meninggalkan budaya Jawa.

“Kalau hitam-hitam iya rata-rata seperti itu. Yang kaum pria memakai blangkon. Kita ingin tunjukkan bahwa budaya Jawa tetap dijaga, meski kita beribadah, “ imbuhnya.

Gus Imm sendiri telah menciptakan karya lagu 600 an buah. Ia memilih berdakwah lewat syair lagu, supaya pesannya lebih mudah diterima masyarakat. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *