Sudah 200 Tahun Lebih, Jasad Seorang Perempuan Masih Utuh
Lokasi makam masih dalam proses penataan, Senin siang. (Foto atas) Temuan jasad utuh sempat diabadikan dengan telefon selular milik warga Desa Megulung, Kecamatan Sumber.
Lokasi makam masih dalam proses penataan, Senin siang. (Foto atas) Temuan jasad utuh sempat diabadikan dengan telefon selular milik warga Desa Megulung, Kecamatan Sumber.

Sumber – Perjalanan Jelajah Islam kali ini tiba di Desa Megulung, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang. Bulan Maret tahun 2019 menjadi tahun yang cukup menggemparkan bagi masyarakat Desa Megulung, karena warga di kampung tersebut menemukan jasad seorang perempuan dan kain kafannya masih utuh di pemakaman umum desa setempat. Dari hasil penelusuran kyai, siapa sebenarnya sosok jasad itu ? Berikut kami hadirkan kisahnya.

Hari itu, ada seorang warga Desa Megulung, Kecamatan Sumber meninggal dunia. Masyarakat sekitar langsung bahu membahu menggali kubur, untuk keperluan memakamkan jenazah. Pada kedalaman sekira 2 Meter, mereka tersentak kaget, begitu mengetahui ada kain kafan masih utuh berwarna kecoklatan campur tanah. Saat kain kafan dibuka, bagian kepala jenazah juga terlihat masih utuh. Sedangkan bagian badan sampai kaki tidak nampak, karena masih tertutup tanah.

Kepala Desa Megulung, Kecamatan Sumber, Suhartono mengungkapkan warga yang menggali kubur keheranan, karena selama ini tidak pernah menemukan kejadian semacam itu. Warga juga tidak menyangka posisi tanah yang dikedhuk di dekat pintu masuk pemakaman umum Desa Megulung, ternyata ada jenazahnya.

“Dari orang-orang tua dulu juga nggak pernah ada silsilah siapa. Cerita tentang ini, ini juga nggak ada. Ya jenazah siapa itu, nggak ada yang tahu. Lha ahli warisnya siapa, warga sekarang nggak ada yang paham, “ ujarnya.

Singkat cerita, pemakaman warga yang meninggal dunia tetap dilanjutkan. Namun setelah itu, suara mengenai temuan jasad utuh semakin menyebar luas. Muncullah pro kontra silang pendapat. Ada sebagian kalangan menghendaki makam digali lagi, guna membuktikan seperti apa wujud jenazah utuh secara keseluruhan. Sebagian kalangan lainnya menganggap temuan itu sudah cukup kuat, karena berdasarkan logika ilmu pengetahuan, kain kafan dan jasad seseorang dalam waktu hitungan beberapa bulan saja sudah rusak membusuk.

Suhartono sempat menawarkan kepada masyarakat, bagaimana kalau makam digali lagi. Berbagai macam pertimbangan muncul, sehingga tidak jadi. Barulah, pengurus ta’mir Masjid Desa Megulung berinisiatif menanyakan kepada seorang ulama, Kyai Amin di Ponorogo, Jawa Timur. Selang beberapa hari, Kyai Amin datang langsung ke Desa Megulung, untuk menggelar tahlil bersama puluhan jemaah Masjid.

Dalam kesempatan itu, Kyai Amin menyampaikan bahwa temuan jasad utuh di makam Desa Megulung adalah perempuan alim bernama Munfaatin, asli dari Sedan yang pernah dinikahi Ki Demang Waru, kemudian dahulu kala menetap di sebelah barat Desa Megulung. Simbah Munfaatin pula yang menjadi cikal bakal pendiri Desa Megulung, sekaligus menanamkan ajaran agama Islam bagi penduduk setempat pada masanya. Ia wafat sekira 200 an tahun silam, atau era tahun 1800 an.

“Kyai dari Ponorogo, Jawa Timur ngendikan Mbah Munfaatin yang babat alas, mbuka Desa Megulung. Meninggalnya juga di sini. Kita dari pihak desa ya ikut lega, karena selama ini belum mengetahui seperti apa sejarah dan tokoh pendiri desa kami, “ kata Suhartono.

Suhartono menambahkan setelah ada penjelasan dari Kyai Amin, warga sekampung kompak menggalang iuran untuk menata makam. Saat ini didirikan cungkup berbentuk rumah joglo ukuran 4 x 4 Meter, di atas makam Simbah Munfaatin. Nantinya setelah bangunan jadi, para jemaah mengagendakan tahlil rutin di tempat tersebut. Muara tujuannya, mewarisi semangat untuk terus berbuat amal kebajikan saat masih hidup di dunia.

“Jemaah di sini sudah menyampaikan ke pihak desa. Nantinya akan diadakan tahlil rutin setiap sore, Jum’at Kliwon malam Sabtu mulai pukul tiga sore. Bahkan nggak hanya jemaah sini, jemaah dari luar desa, bahkan juga akan berdatangan ke sini. Bukan kami bermaksud ingin mengkultuskan sebuah makam, tapi semata-mata demi pangeling-eling (mengingat) sejarah, “ pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *