Kesaksian Juru Kunci, Tambak Belakang Makam Nyai Ageng Maloko Jadi Misteri
Makam Nyai Ageng Maloko di Caruban, Desa Gedongmulyo, Kecamatan Lasem. Tampak peziarah melihat peninggalan genthong.
Makam Nyai Ageng Maloko di Caruban, Desa Gedongmulyo, Kecamatan Lasem. Tampak peziarah melihat peninggalan genthong.

Lasem – Menyusuri jejak sejarah Nyai Ageng Maloko, kakak Sunan Bonang sekaligus pernah memimpin Kadipaten Lasem, sungguh tak pernah ada habisnya. Banyak sekali kisah-kisah menarik yang menyertai. Nyai Ageng Maloko bahkan dianggap sebagai seorang mubalighah pertama yang menyebarkan agama Islam di tanah Pulau Jawa. Seperti apa sepak terjang beliau dan apa peninggalannya yang masih utuh sampai sekarang ? Ikuti perjalanan kami dalam Jelajah Islam.

Nyai Ageng Maloko merupakan putri dari Sunan Ngampel. Ia memiliki 3 orang adik, diantaranya Sunan Bonang, Sunan Drajat dan Nyai Ageng Manila (isteri Sunan Kalijaga).

Nyai Ageng Maloko memiliki nama lain Siti Chafsah dan Siti Malikatun. Menurut riwayat sejarah, Nyai Ageng Maloko dinikahkan oleh orang tuanya dengan Pangeran Wiranegara, putera Adipati Lasem, Wirabadjra. Singkat cerita, Nyai Ageng Maloko mewarisi tahta memimpin Lasem, setelah suaminya wafat tahun 1479 Masehi.

Nyai Ageng Maloko kala itu baru berusia 28 tahun. Ia memutuskan memindahkan pusat pemerintahan dari Binangun – Bonang, menuju Lasem. Ketika memerintah, Nyai Ageng Maloko membangun taman yang sangat indah bernama Taman Sitaresmi di Caruban, Desa Gedongmulyo. Selain memimpin Kadipaten Lasem, Nyai Ageng Maloko juga dikenal giat menyebarkan agama Islam, terutama bagi kaum perempuan. Putri Sunan Muria dan putri Sunan Kudus pernah mengaji di kediaman Nyai Ageng Maloko.

Diriwayatkan Nyai Ageng Maloko meninggal dunia, ketika usia 39 tahun dan pusara makamnya berada di sebuah lokasi yang sangat teduh di kawasan pinggir Pantai Caruban, Desa Gedongmulyo, Kecamatan Lasem.

Juru kunci makam Nyai Ageng Maloko, Muhammad Syukron mengungkapkan semasa penyebaran agama Islam, peran Nyai Ageng Maloko sangatlah penting. Ia ditunjuk seperti bendaharanya Wali Songo, sehingga harus mengatur segala macam keperluan para wali. Nyai Ageng Maloko menyimpan banyak benda milik Wali Songo, tetapi tak sembarang orang bisa melihatnya.

“Ada kunjungan seorang habib dari Surabaya berziarah ke makam Nyai Ageng Maloko. Beliau menunjukkan tempat-tempat di mana saja yang menjadi lokasi penyimpanan peninggalan Wali Songo. Jumlahnya cukup banyak. Tapi saya ya nggak tahu seperti apa bentuknya. Bisa saja ghaib atau memang terpendam dalam tanah, “ kata Syukron.

Kalau mencermati sejumlah kisah unik dan cerita turun temurun para sesepuh, lokasi di belakang makam Nyai Ageng Maloko yang sekarang menjadi tambak, diperkirakan banyak peninggalan bersejarah. Mbah Kiai Hambali Alm., ulama yang tinggal di Caruban, Desa Gedongmulyo sempat mengisahkan di tambak tersebut kalau digali sedalam 7 Meter, akan terlihat tiang kapal yang dulu pernah dinaiki Nyai Ageng Maloko.

“Saya ya tanya sama Mbah Kiai Hambali, itu barang ghaib apa nyata mbah. Beliau menjawab nyata, kira-kira dalamnya 7 Meter. Kan dalam sekali itu. Tapi tambak itu kan kepunyaan orang, jadi belum pernah dibuktikan kebenarannya, “ bebernya.

Pernah suatu saat, tambak itu akan disewa oleh seorang pejabat Pemkab Rembang. Didatangkanlah alat berat jenis beckhoe, untuk keperluan menata dan mengeduk lahan tambak. Kali pertama beckhoe ukuran kecil, mendadak tidak bisa beroperasi. Merasa penasaran, dikerahkan pula beckhoe ukuran lebih besar. Ternyata juga sama, beckhoe tak bisa dioperasikan.

Apalagi penjaganya saat menunggu beckhoe pada malam hari, melihat kawasan di tambak belakang makam Nyai Ageng Maloko seakan-akan seperti pasar, penjual maupun pembelinya kebanyakan perempuan. Rencana menata tambak batal. Tambak juga tidak jadi disewa, karena peristiwa tersebut.

“Beckhoenya itu nggak mau gerak, yang beckhoe kecil maupun besar. Apalagi ketika diweruhi malam hari di lokasi itu tampak seperti pasar. Ya sudah batal semua akhirnya, “ ungkap Syukron.

Muhammad Syukron menambahkan peninggalan Nyai Ageng Maloko yang masih bertahan sampai sekarang yakni tiang-tiang bangunan yang dulunya digunakan untuk tempat mengaji bersama murid. Posisinya terletak di depan makam Nyai Ageng Maloko. Selain itu, ada genthong bersejarah petilasan Nyai Ageng Maloko, diletakkan di depan makam Nyai Ageng Maloko, persis di sebelah timur pintu masuk makam.

Supaya awet, kini Genthong terpaksa dipendam ke dalam lantai, sehingga hanya tampak bagian atasnya saja. Syukron mengisi genthong dengan air dari dalam kampung. Namun entah kenapa, oleh sebagian peziarah, air dari dalam genthong itu dianggap memiliki khasiat untuk menyembuhkan orang sakit, memulihkan orang dengan gangguan jiwa dan anti tenung atau santet. Sejak tahun 1984 kali pertama menjadi juru kunci makam hingga sekarang, dirinya sudah sering mendengar cerita peziarah yang keluarganya sembuh, setelah minum air tersebut. Karena air dari genthong Nyai Ageng Maloko hanya sebagai perantara, ia tetap mengingatkan bahwa semua kesembuhan berasal dari Allah SWT.

“Air dari dalam genthong itu memang sering diambil para peziarah, katanya untuk mengobati orang sakit, orang gila dan orang yang kena tenung atau santet. Diminum kok sembuh. Ya mungkin itu sebagai wasilah saja, tetaplah percaya kepada Allah SWT yang menyembuhkan, “ pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *