Taubat, PSK Pengidap HIV/Aids Ikut Pengajian
Ilustrasi HIV/Aids. (foto atas) Suasana pengajian di halaman Ponpes Kauman, Desa Karangturi Kecamatan Lasem.
Ilustrasi HIV/Aids. (foto atas) Suasana pengajian di halaman Ponpes Kauman, Desa Karangturi Kecamatan Lasem.

Lasem – Apa jadinya jika sejumlah pekerja seks komersial (PSK) yang mengidap penyakit HIV/Aids dan diprediksi tidak lagi berumur panjang, ikut mengaji memperdalam agama Islam ? Mereka semula sempat “divonis” mati, apakah akhirnya sanggup untuk bertahan ?

Malam itu, suasana halaman Pondok Pesantren Kauman, Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, ramai dipadati umat yang akan mengaji. Pada bulan suci Ramadhan semacam ini, tiap malam rutin diadakan pengajian untuk warga kampung, dari luar Pondok Pesantren. Antara pria dan wanita duduk pada bagian terpisah, sebagaimana lazimnya pengajian.

Warga yang mengaji berasal dari beragam latar belakang. Mulai dari warga biasa, perangkat desa, pengurus ta’mir masjid, termasuk ada pula pekerja seks komersial (PSK) pengidap HIV/Aids yang ingin bertaubat.

Pengasuh Pondok Pesantren Kauman Lasem, Kiai Zaim Ahmad Ma’soem mengatakan pasien sebut saja berinisial A itu, merupakan titipan seorang dokter. Pada awalnya ia benar-benar merahasiakan, jangan sampai jemaah lain mengetahui siapa A dan apa profesinya. Namun seiring bergulirnya waktu, justru A sendiri yang membuka riwayat pengalamannya.

Setelah mengaji, A merasa pikiran dan mata batinnya semakin nyaman. Ia blak-blakan sempat diprediksi hanya beberapa bulan lagi akan mati, namun ternyata mampu hidup bertahun-tahun, bahkan kondisinya sekarang ini semakin membaik. Gus Zaim, demikian sapaan akrab Kiai Zaim Ahmad Ma’soem mengaku tidak tahu apakah karena rasa sakit secara dzohir tergusur oleh ketenangan batin atau ada faktor lain yang membuat A akhirnya mau membuka diri.

“Setelah ngaji, pikirannya cooling down. Saya nggak tahu, apakah dia nggak merasakan sakit, karena kedekatannya dengan Allah SWT, menindih rasa sakit itu, sehingga sakit dzohir bisa terhilangkan, karena batinnya sudah langsung sama Allah. Lama saya rahasiakan, eh malah dia sendiri yang membukanya, “ kata Gus Zaim.

Lambat laun, bukan A saja yang ikut mengaji. Beberapa temannya sesama penderita HIV/Aids yang ingin memperdalam ilmu agama Islam, diajak turut serta.

Dokter yang menangani pasien HIV/Aids kepada dirinya mengungkapkan  setiap penyakit pasti ada obatnya. Bisa saja obat itu diperoleh dari cara lain yang tidak disangka-sangka, semua kembali lagi kepada kekuasaan Allah SWT.

“Dokter sendiri yang menyampaikan kepada saya, ia yakin Allah akan memberikan kesembuhan, toh setiap penyakit ada obatnya. Waktu saya dengar seperti itu, rasanya kok ngenes. Saya berpikir, hebat sekali dokter ini ya, “ bebernya.

Gus Zaim menuturkan ia hanya sebagai pengasuh pondok pesantren, sebatas memberikan kajian ilmu Islam dari sisi fiqih maupun akidah. Tidak ahli dalam perkara “suwuk”.

“Saya berikan solusi pencerahan hukum-hukum yang sifatnya dzohir, biar mereka sendiri yang menjabarkan. Saya bukan orang yang bisa dengan ilmu suwuk. Saya jelaskan, nggak bisa bongso suwuk. Itu urusan orang lain, “ ujarnya terkekeh.

Gus Zaim menekankan Islam mengajarkan kepada setiap umatnya untuk selalu berusaha. Saat kondisi badan sakit, tentu harus berobat. Namun jika sudah maksimal berobat, ternyata akhirnya tetap meninggal dunia, berarti memang sudah garis takdirnya seperti itu.

Ada takdir muallaq dan takdir mubram. Muallaq artinya ketentuan Allah SWT yang mengikutsertakan peran manusia melalui usaha atau ikhtiar. Sedangkan takdir mubram, tidak dapat dielakkan atau ketentuan mutlak Allah SWT.

“Saya kasih contoh, ketika ramai mobil, kita ikhtiar jangan nyebrang jalan dulu. Barang wis sepi, nggak ada mobil, kita nyebrang. Mendadak ada mobil melaju, lampunya mati dan nabrak. Kita sudah ikhtiar, tapi harga matinya seperti itu, mubram namanya, “ imbuhnya.

Sama pula dengan orang terjangkit virus HIV/Aids dan divonis mati. Menurutnya, janganlah menyerah, dan tetaplah berikhtiar.

“Dia ikhtiar sedemikian rupa, karena yakin semua penyakit ada obatnya. Bisa saja berobat dengan caranya sendiri, misal bawa air putih segelas baca Al-Fatihah dan diminum, lha kok sembuh. Tapi sebaliknya, sudah berobat kemana-mana, tiap minum baca Al-Fatihah kok tetep mati, ya kuwi takdire pengeran (Allah SWT-Red), “ pungkas Gus Zaim. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *