Ada Yang Tersembunyi Di Bawah Tempat Imam Ini, Bagian Sejarah Masjid Tiban
Tiang di Masjid Tiban Desa Gedongmulyo ini merupakan tiang asli yang masih dipertahankan. (foto atas) Ada batu pasujudan di bawah tempat imam Masjid Tiban.
Tiang di Masjid Tiban Desa Gedongmulyo ini merupakan tiang asli yang masih dipertahankan. (foto atas) Ada batu pasujudan di bawah tempat imam Masjid Tiban.

Lasem – Masjid yang satu ini disebut Masjid Tiban, karena tiba-tiba sudah berdiri, tanpa diketahui bagaimana proses pembangunannya. Usia Masjid tiban tersebut konon juga dipercaya lebih tua, ketimbang Masjid Jami’ Lasem. Jangan coba-coba tiduran di Masjid ini ? kenapa, ikuti perjalanan kami dalam Jelajah Islam.

Namanya Masjid Tiban Nurul Huda, terletak di Desa Gedongmulyo, Kecamatan Lasem, tepatnya di sebelah barat Kali Bagan, persis berseberangan dengan bangunan Lawang Ombo dan klentheng Tjoe An Kiong Jl. Dasun No. 19. Antara Masjid dengan Lawang Ombo sebenarnya saling berhadap-hadapan, namun terpisah oleh aliran sungai.

Ada beberapa versi cerita turun temurun yang berkembang sampai sekarang. Sebagian kalangan memperkirakan Masjid itu merupakan peninggalan Sunan Bonang. Tapi ada pula yang menganggap peninggalan Sunan Langgar, pusara makamnya berada di Desa Langgar, Kecamatan Sluke.

Kala itu, pada abad ke-14, Nyai Ageng Maloka, putri Sunan Ampel sekaligus kakak Sunan Bonang, yang memimpin Kadipaten Lasem di pusat pemerintahan Taman Sitaresmi Caruban, meminta bantuan kepada Sunan Langgar untuk dibuatkan Masjid. Pondasinya sudah dibuat. Tapi saat Masjid akan diletakkan di tempat itu, ternyata justru jatuh di pinggir sungai Desa Gedongmulyo, depan Lawang Ombo dan Klentheng Tjoe An Kiong. Ada yang mengaitkan dulu di pinggir Kali Bagan, warga terbiasa minum candu atau minuman keras. Harapannya, begitu ada Masjid, bisa menekan kebiasaan menenggak candu.

Suyoto, seorang sesepuh Desa Gedongmulyo yang tinggal berdekatan dengan Masjid Tiban bercerita semasa kecilnya, Masjid dikelilingi oleh pohon sawo dan ringin. Namun seiring dengan perluasan serambi dan sebelah utara Masjid, pohon-pohon tersebut ditebang.

Yang paling ia ingat, di bagian dalam Masjid, titik tempat imam berdiri sekarang, terdapat batu pasujudan cukup besar seukuran untuk sholat. Di atas batu ada bekas telapak tangan dan kaki. Namun batu itu terpaksa ditutup keramik, karena harus menyesuaikan dengan pemerataan lantai.

“Ketika memugar Masjid ini, saya ikut membantu kok. Lha posisi Imam, di bawahnya ada batu besar untuk pasujudan. Waktu itu kan tanahnya ditinggikan, biar rata. Akibatnya posisi batu menjadi agak dalam, sehingga ikut diratakan juga dan ditutup, “ kata Suyoto menggunakan Bahasa Jawa.

Menurut Imam Masjid Tiban Nurul Huda, Abdul Karim meski pernah dipugar, namun bangunan asli Masjid tetap dipertahankan. Mulai dari bagian pintu, dan 4 tiang Masjid. Peninggalan lain, sumur kuno di depan Masjid yang sumber airnya masih bisa diandalkan, guna menunjang aktivitas ibadah.

Masjid tiban ini dipercaya lebih tua, ketimbang Masjid Jami’ Lasem. Tapi di pintu utama, ada tulisan 1899. Belum diketahui apakah itu tahun pembuatan Masjid Tiban atau petunjuk lain. Sedangkan menurut riwayat sejarah, Masjid Jami’ Lasem berdiri tahun 1588 Masehi.

“Ceritanya kan Mbah Sunan Langgar mau naruh Masjid ini di daerah Caruban sana, tapi sebelum waktu Subuh, jatuhnya di sini. Makanya dinamakan Masjid Tiban. Bangunan yang asli tiangnya, terus pintu, sumur dan dulu ada pasujudan yang sudah ditutup. Ada juga bedug kuno, tapi sudah dipindahkan ke Masjid Jami’ Lasem, “ terangnya memakai Bahasa Jawa.

Di Masjid ini, ada sebuah makam yang menempel dengan bangunan Masjid. Warga setempat menamakan makam Mbah Kamplok, diyakini sebagai salah satu murid Sunan Bonang. Tiap bulan Syura, rutin diadakan haul, seusai Haul Sunan Bonang.

Pada saat bulan suci Ramadhan, kegiatan yang mencolok di Masjid ini, seperti pengajian sehabis Ashar hingga waktu berbuka puasa dan tadarus Al-qur’an mulai pukul 03.00 dini hari, menjelang waktu Imsyak.

“Ya kalau Ramadhan, memang lebih ramai di sini. Kalau nggak Ramadhan, yang rutin itu Kamis malam Jum’at ada pengajian di dekat makam Mbah Kamplok. Makam niku sudah lama, kalau nama aslinya Mbah Roundoh, “ imbuhnya.

Jika menilik kisah para sesepuh, beberapa kali muncul sejumlah cerita keanehan di Masjid ini. Pernah ada sebuah kitab suci Al-qur’an yang diletakkan di pojok dalam Masjid. Tiap kali ditatap dengan mata telanjang, mata seperti blawur atau buram. Kisah lain, kalau masuk Masjid ini, umat diharapkan benar-benar niat untuk beribadah kepada Allah SWT.

Jangan coba-coba hanya tidur di Masjid ini, karena akan mengalami peristiwa aneh. Warga setempat beberapa kali mendapati, orang yang tidur di dalam Masjid Tiban, mendadak berteriak-teriak meminta tolong. Bahkan ada yang sampai tergulung tikar alas tidur dan berpindah posisi di depan Masjid Tiban. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *