Nyai Siti Chalimah Dan Keanehan Di Dekat Pusara Makamnya
Akar besar pohon nyamplung dan ketapang mengitari makam Nyai Siti Chalimah, di Desa Tanjungan Kecamatan Kragan.
Akar besar pohon nyamplung dan ketapang mengitari makam Nyai Siti Chalimah, di Desa Tanjungan Kecamatan Kragan.

Kragan – Nyai Siti Chalimah, merupakan salah satu tokoh penyebar agama Islam yang pusara makamnya berada di pinggir pantai Desa Tanjungan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang. Secara kasat mata, ada keanehan mencolok di sekitar makam ini. Seperti apa, ikuti jejak kami dalam Jelajah Islam.

Siti Chalimah, menurut silsilah yang berkembang di tengah masyarakat Desa Tanjungan, dipercaya sebagai cucu dari Dewi Indu atau Bhre Lasem, raja pertama Kerajaan Lasem saat masih di bawah kekuasaan Majapahit era abad ke-13. Siti Chalimah juga diriwayatkan pernah menjadi santri Sunan Ampel. Sunan Ampel sendiri berdakwah agama Islam, perkiraan tahun 1450 an Masehi.

Makam Siti Chalimah sudah ada sejak lama, di dekat Masjid Tanjungan. Jaraknya dengan pantai utara Jawa hanya sekira 50 an Meter. Tapi makam tersebut baru ditelusuri sejarahnya tahun 1967 silam, diprakarsai oleh seorang ulama dari Sarang, Rembang. Makam kemudian ditata tahun 2004 dan diadakan haul tiap hari Sabtu Pahing sasi apit atau sela (penanggalan jawa-Red), setelah sasi Syawal.

Warji, warga Desa Tanjungan, yang merawat makam Nyai Siti Chalimah mengungkapkan cukup banyak santri datang, mengikuti haul.

“Kalau zaman dahulu, nama seseorang dari lingkungan kerajaan nggak hanya satu. Jadi punya nama keraton, nama islam dan nama julukan jawane. Tapi untuk Mbah Siti Chalimah, saya belum menemukan siapa. Yang jelas waktu itu, Mbah Kiai Imam Sarang yang istilahnya membuka makam Nyai Siti Chalimah ini, “ tuturnya menggunakan Bahasa Jawa.

Makam Nyai Siti Chalimah kondisinya sangat teduh, karena dikelilingi 4 pohon berukuran raksasa, yakni pohon nyamplung dan ketapang. Akar pohonnya saja berdiameter 40 an centi meter, menyembul dari balik tanah. Yang aneh, ketika akar mendekati pusara makam, tidak sampai menabrak. Tapi akar berbelok, baik dari pohon sebelah utara maupun pohon sisi selatan, sehingga tampak akar-akar tersebut melindungi makam Nyai Siti Chalimah.

Bagi warga sekitar, ketika berada di dekat makam Siti Chalimah tidak ada yang pernah berani mengucapkan nadzar atau janji. Mitos yang berkembang, kalau sampai nadzar meleset, yang bersangkutan akan mengalami peristiwa buruk.

“Wit-witan teng mriku mpun dangu. Nyamplung lan ketapang. Posisi akarnya mengitari makam, belok muter seperti ngalangi makam. Ya itu salah satu keanehannya. Kalau dilogika kan akar sudah sampai sini, kok tiba-tiba belok arah. Kekuasaanya Gusti Allah, “ imbuh Warji.

Tidak ada catatan sejarah yang jelas, kenapa Nyai Siti Chalimah dimakamkan di Desa Tanjungan. Namun menurut cerita turun temurun, Siti Chalimah kala itu menjadi pemimpin bagi masyarakat sekitar, sambil mensyi’arkan agama Islam.

Nama Desa Tanjungan memiliki filosofi tatanane palawija munjung-munjung (banyak atau tinggi-Red), menandakan sebagai desa yang makmur. Ada pula kebiasaan masyarakat setempat, hingga saat ini masih diterapkan. Pintu utama rumah-rumah penduduk di Desa Tanjungan, tidak ada yang menghadap ke timur. Bagaimana awal mula dan kenapa seperti itu, warga sepertinya takut melanggar pantangan tersebut.

“Adat yang diwariskan dari dulu, rumah menghadap ke timur di sini nggak ada. Jika berani menghadap timur, takut ada apa-apa. Semua menghadap ke utara, barat, selatan, yang penting nggak menghadap timur. Sampai sekarang seperti itu. Kalau butulan atau pintu samping rumah ada yang menghadap timur, “ kisahnya.

Selama belasan tahun merawat dan menjaga makam Nyai Siti Chalimah, ia beberapa kali mendapati keanehan yang di luar nalar. Salah satunya, pernah datang 3 orang pria akan berziarah di makam Nyai Siti Chalimah. Mereka dipersilahkan masuk, tapi menolak, karena alasan Nyai Siti Chalimah adalah seorang perempuan. Kurang elok jika mendekati pusara makamnya. Baru saja Warji membuka pintu makam, tiba-tiba 3 orang tersebut sudah tidak ada dalam waktu sekejap.

“Kejadian seperti itu dua kali saya alami. Peristiwa lain, seorang peziarah ngakunya dari Tuban, Jawa Timur. Dia pamit wudhlu di belakang makam, tak tunggu. Saat saya datangi, orangnya nggak ada. Wallahualam mas, “ pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *