Kenapa Anjir Sunan Bonang Dipagari Besi Dan Dikawat, Waduhhh Ternyata Sering Dicuri
Anjir, petilasan Sunan Bonang di pinggir jalur Pantura Desa Bonang.
Anjir, petilasan Sunan Bonang di pinggir jalur Pantura Desa Bonang.

Lasem – Menyibak sejarah Sunan Bonang dalam menyebarkan agama Islam di pesisir pantai utara Desa Bonang, Kecamatan Lasem seperti tak pernah ada habisnya. Selalu muncul daya tarik untuk menelusuri lebih dalam. Nah..salah satu petilasan Sunan Bonang yang hingga saat ini masih dijaga adalah Anjir. Bagaimana cerita seputar Anjir tersebut, ikuti perjalanan Jelajah Islam.

Anjir adalah sebuah kayu berdiameter sekira 15 centi meter, dengan tinggi mencapai 3 meter. Posisinya terletak di sebelah utara pintu masuk Pasujudan Sunan Bonang atau tepat di pinggir jalur Pantura Semarang – Surabaya.

Zaman dahulu, Anjir semula menempel pada sebuah pohon. Tapi begitu pohon tersebut roboh, kemudian Anjir didirikan oleh warga setempat dan dililit kawat dari bawah sampai atas. Selain itu, juga dikelilingi pagar besi, sesuai dengan tinggi Anjir.

Seorang sesepuh Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Ahmad Munji menceritakan dulu ada saja orang yang diam-diam mencuri kayu bagian dari Anjir. Konon tersiar kabar dengan membawa potongan kayu Anjir, bisa mendatangkan berkah. Termasuk ketika berangkat melaut, dapat mendapatkan hasil tangkapan berlimpah. Khawatir lama kelamaan Anjir akan habis, pihak Yayasan Sunan Bonang memutuskan memagari petilasan itu. Mereka tidak ingin keberadaan Anjir, justru bisa mengarah pada kekufuran.

“Niku kan gugon tuhon mawon. Gugon tuhon artinya cerita turun temurun sing dereng jelas. Kabare ne mancing ben alongan (dapat hasil banyak-Red), sedoyo kan kedah diwangsulke gusti Allah. Riyin Anjir niku nemplek wonten wit gede wit jaranan. Lha wit jaranane ruboh, terus dipageri ngantos sakniki, “ kisahnya.

Ditanya tentang asal usul Anjir, menurut Ahmad pada masa kecilnya memang sudah ada benda tersebut. Di kalangan masyarakat Desa Bonang, muncul tiga versi menyangkut Anjir. Ada yang menyebutkan kayu untuk tanda di pinggir laut, ada pula yang menganggap tongkatnya Sunan Bonang. Namun versi lain mengisahkan kayu itu merupakan sisa kayu penggantian cungkup makam Putri Campa di dekat Pasujudan Sunan Bonang. Kala itu tiang-tiang bangunan makamnya terbuat dari tulang ikan paus, tapi karena mulai rusak, akhirnya diganti.

“Tiyang mriki wonten tigang versi. Boten dipertentangkan, hananging sing penting Anjir dijogo. Anjir tetep diuri-uri (dilestarikan-Red), amargi peninggalan wali. Cobi ditingali, kayune niku kuno sanget, “ imbuh Ahmad Munji.

Beberapa tahun lalu, kebakaran lahan pernah melanda perbukitan di sebelah utara Pasujudan Sunan Bonang. Api berkobar cukup besar. Tapi beruntung, situs Anjir selamat. Api padam hanya berjarak 2 Meter dari posisi Anjir berdiri. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *