Diselimuti Kekhawatiran, Siapkan Jurus Antisipasi
Masa awal tanam tembakau di Kabupaten Rembang.
Masa awal tanam tembakau di Kabupaten Rembang.

Bulu – Para petani tembakau diselimuti kekhawatiran musim kemarau basah yang berkepanjangan. Kemarau basah, berarti masih turun hujan deras, meski pada musim kering. Lalu seperti apa dampaknya bagi perkembangan tanaman ?

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kecamatan Bulu, Wawan Edi Susanto menjelaskan mulai akhir bulan April dan awal Mei, petani sudah mulai menanam tembakau di lahan mereka. Pathokannya, kalau hujan masih lingkup masa tanam 36 hari ke bawah, tidak masalah terhadap pertumbuhan tanaman. Justru tanaman membutuhkan air. Hujan turun menjadi mengkhawatirkan, pada saat usia tanaman di atas 36 hari atau bahkan mendekati panenan. Dikhawatirkan dapat menurunkan kualitas maupun produktivitas.

“Hujan kalau di awal-awal tanam seperti ini sebenarnya malah bagus. Belum lama ini kan hujan deras dan memicu banjir di wilayah timur, kebetulan kalau penyangga utama tembakau seperti Kecamatan Sulang, Gunem, Bulu, Sumber dan Kecamatan Pamotan, hujan nggak sampai memicu banjir. Yang harus diwaspadai hujan di saat tanaman berumur 36 hari keatas, “ ungkapnya.

Pria warga Desa Pinggan, Kecamatan Bulu ini menambahkan banyak sekali pengaruhnya, manakala curah hujan tinggi menjelang panen tembakau. Biasanya kualitas daun tembakau akan menurun, gara-gara kandungan air terlalu tinggi. Akibatnya, produktivitas bobot pun menurun. Jika cuaca tidak mendukung, petani sebatas melakukan langkah-langkah antisipasi. Misalnya membuat got pembuangan air, kemudian cara-cara lain untuk memastikan air tidak menggenangi lahan.

“Selain bobot daun turun, kita bicara kandungan nikotin anjlok dan yang jelas menurunkan kualitas. Tapi semoga saja nggak terjadi lagi, seperti beberapa tahun lalu, kita menghadapi cuaca ekstrim kemarau basah berkepanjangan, “ imbuhnya.

Luas lahan tembakau di Kabupaten Rembang tahun ini hanya kisaran 3.500 hektar, menurun dibandingkan tahun 2018 lalu yang mencapai 5.000 hektar. Petani Kabupaten Rembang terkena sanksi pengurangan luas dari perusahaan mitra, salah satunya karena plastik yang tercampur dalam tembakau cukup tinggi. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *