Faktor Yang Mempengaruhi, Dibalik Kesuksesan Panen Bengkuang
Petani di Desa Sendangagung, Kecamatan Pamotan menurunkan hasil panen buah bengkuang dari atas kendaraan, Kamis (09/05).
Petani di Desa Sendangagung, Kecamatan Pamotan menurunkan hasil panen buah bengkuang dari atas kendaraan, Kamis (09/05).

Pamotan – Hasil panen buah bengkuang di Kecamatan Pamotan tahun ini berlimpah dan didukung harga yang cukup bagus. Kalau dibandingkan dengan periode tahun lalu, hasil tahun ini meningkat.

Ngatemin, seorang petani bengkuang di Desa Sendangagung, Kecamatan Pamotan mengatakan ada sejumlah desa penghasil bengkuang, seperti kampungnya sendiri, kemudian Japerejo Kecamatan Pamotan, Japeledok Kecamatan Pancur dan sekitarnya. Stok buah di lahan pertanian tinggal sedikit, kemungkinan panen akan dilanjutkan bulan Juni mendatang.

Ngatemin menambahkan pemasaran bengkuang tergolong mudah. Paling jauh menyetor ke daerah Tayu, Kabupaten Pati.

“Ndhudhuke mangke sasi Syawal bakdo bodo menawi. Gilirane ngoten, sakniki namung kedik (sedikit-Red). Setor bengkuang paling daerah mriki mawon, lha wong paling adoh teng Tayu, Pati. Boten ngantos Jawa Timur mas, “ tutur Ngatemin.

Sementara itu, seorang penebas panen bengkuang, H. Hamim menceritakan hasil bengkuang bagus, karena didukung cuaca yang mendukung. Kala itu saat buah mulai isi, turun hujan, sehingga petani tidak terlalu susah mengairi. Biasanya kalau cuaca kurang bagus, setiap hektar hanya mampu menghasilkan 50 pikul, tetapi kini mendapatkan hampir 70 pikul.

Dari sisi harga, juga relatif tinggi, per ikat dijual kepada pembeli rata-rata Rp 25-30 ribu.

“Bengkuang itu tipe buah yang butuh panas dan hujan. Kalau pas buah mau isi hujan, kalau mau panen, panas biar buahnya nggak busuk. Sekarang harganya lumayan bagus, tiap ikat bisa tembus Rp 30 ribu, “ ujar pria warga Desa Sendangagung Kec. Pamotan ini.

Hamim memperkirakan masa panen akan bertahan hingga pertengahan bulan Juni mendatang. Menurutnya, potensi bengkuang kedepan layak untuk dikembangkan, karena ketersediaan lahan cukup dan ditopang keuletan petani. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *