Menyedihkan, Peringati Hardiknas Dalam Suasana Keprihatinan
Potret dampak banjir yang melanda SMP N II Lasem, mengakibatkan aktivitas pembelajaran terganggu, Kamis (02 Mei 2019).
Potret dampak banjir yang melanda SMP N II Lasem, mengakibatkan aktivitas pembelajaran terganggu, Kamis (02 Mei 2019).

Lasem – Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tanggal 02 Mei 2019, diperingati dalam suasana keprihatinan oleh seluruh warga sekolah SMP N II Lasem yang terletak di pinggir jalur Pantura Semarang – Surabaya, turut tanah Desa Sendangasri Kecamatan Lasem. Betapa tidak, sekolah tersebut dihantam banjir besar, sejak Selasa malam. Hingga Kamis pagi (02/05), sekolah masih dipenuhi lumpur sisa banjir.

Kepala SMP N II Lasem, Harijanta menuturkan pihaknya tidak bisa menggelar upacara Hardiknas, karena kondisi lapangan maupun halaman tidak memungkinkan. Siswa yang masuk sekolah difokuskan melakukan pembersihan lumpur sisa banjir, bersama relawan dari Pramuka Kwarcab Rembang.

“Tadi ada anggota Ubaloka Pramuka yang datang ke sini bawa mesin diesel, untuk menyemprot membersihkan lumpur. Anak-anak maupun guru membantu, termasuk menjemur buku, “ ujarnya.

Dampak dari bencana banjir tersebut, banyak buku perpustakaan yang basah. Begitu pula alat-alat musik, sebagian rusak. Menurutnya, pada tahun ini lingkungan SMP N II Lasem sudah terkena banjir sebanyak 3 kali. Namun banjir Selasa malam merupakan yang paling besar. Diperkirakan aktivitas pembelajaran baru normal pekan depan.

“Banyak buku tidak bisa diselamatkan, sebagian besar basah. Yang alat musik, ini masih kita cek. Seperti keyboard kemasukan air. Padahal rencananya Kamis malam nanti anak-anak mau ada pentas. Kali ini banjir terparah, karena di halaman depan kedalaman air 1 Meter lebih. Semua ruangan kemasukan air, kecuali ruang TU dan Kepala Sekolah, karena kebetulan sudah ditinggikan, “ beber Harijanta.

Harijanta menimpali untuk jangka panjang supaya SMP N II Lasem tidak menjadi langganan banjir, pihaknya mengusulkan 2 solusi. Yang pertama, pemindahan sekolah atau relokasi. Alternatif kedua, yakni revitalisasi dengan meninggikan seluruh bangunan sekolah. Mengingat, letak geografis sekolah, posisinya lebih rendah dibandingkan sungai yang ada di depan sekolah.

“Mohon maaf ini, saya melihatnya sejak awal posisi sekolah sudah salah. Nggak menguntungkan dari letak geografisnya. Kalau dua solusi tadi, ranahnya harus pemerintah, nggak lagi sekolah. Tanpa ada upaya tersebut, kalau hujan dari pegunungan Lasem, air akan tetap masuk ke dalam sekolah, “ imbuhnya.

Menyangkut nilai kerugian, Harijanta memperkirakan untuk buku perpustakaan ditaksir Rp 65 Jutaan, alat musik Rp 40 Jutaan, alat drumband Rp 10 Jutaan dan peralatan lain Rp 8 Jutaan atau totalnya mencapai Rp 123 Juta. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *