Anggapan Pabrik Hanya Mencetak Kaum Buruh, Begini Komentar Bupati
Potret pabrik dan sektor pertanian di Kabupaten Rembang.
Potret pabrik dan sektor pertanian di Kabupaten Rembang.

Rembang – Pemerintah Kabupaten Rembang menepis anggapan, munculnya pabrik-pabrik besar, untuk menjadikan warga sebagai kaum buruh. Tetapi memiliki tujuan supaya angka pengangguran semakin berkurang.

Bupati Rembang, Abdul Hafidz menargetkan industri skala kecil dan sedang bisa menyebar ke seluruh wilayah kecamatan. Tapi untuk industri besar, harus berada di kawasan industri. Kemunculan industri sedang, sekelas PT Malindo dan PT Japfa di beberapa kecamatan, bukan berarti dirinya ingin warganya selalu menjadi buruh. Tetapi ingin lebih menyediakan kesempatan kerja bagi warga di sekitar pabrik.

Namun di sisi lain, Pemkab Rembang juga mendorong tumbuhnya wirausahawan baru melalui sejumlah program.

“PT Malindo sudah ada di Rembang, Gunem dan Kecamatan Sedan. PT Japfa rencananya akan ada di Sulang. Faktanya tetap ada warga yang membutuhkan pekerjaan. Jadi bukan kok kita pengin menciptakan warga jadi buruh, itu nggak. Justru enterpreneur yang tetep jadi fokus kedepan, “ ungkap Hafidz.

Hafidz menimpali angka pengangguran terbuka di Kabupaten Rembang saat ini mencapai 2,8 % atau kisaran 14 ribu orang. Ia mengklaim jika dibandingkan dengan Kabupaten Blora, Pati maupun Kudus, pengangguran terbuka di Kabupaten Rembang lebih rendah.

Menurutnya hal itu karena Kabupaten Rembang didukung sektor utara berupa kelautan, sektor tengah ditopang usaha mikro kecil menengah (UMKM), sedangkan sektor selatan diperkuat pertanian. Antar sektor tersebut saling mendukung. Apalagi dalam setahun terakhir ini, UMKM di Kabupaten Rembang tumbuh sekira 10 ribu UMKM baru, dari yang semula 29 ribu menjadi 39 ribu UMKM.

“Di Kudus saja pengangguran terbuka 4 %, padahal perusahaan di sana cukup banyak. Rembang hanya 2,8 %, ini bicara data BPS lho. Kalau kita petakan, lor (utara) ada segoro (laut), tengah UMKM, selatan pertanian. Kalau utara ramai, maka berpengaruh sama UMKM. Selatan ramai, maka UMKM nya ikut tumbuh, “ imbuhnya.

Bupati mengutarakan dokumen rencana tata ruang wilayah (RTRW) daerah tetap menjadi dasar pengembangan investasi kedepan. Posisi pabrik tidak boleh di luar zona yang ada dalam RTRW. Ia mempersilahkan masyarakat juga ikut mengawasi. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *