Rasa Ini Yang Membuat Suharso Monoarfa Nyaris Menangis Di Depan Mbah Moen
Pelaksana Tugas Ketua Umum PPP, Suharso Monoarfa saat berkunjung ke Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang, Rabu (27/03). Mulai sholat berjamaah, hingga bertemu Kiai Maimoen Zubair.
Pelaksana Tugas Ketua Umum PPP, Suharso Monoarfa saat berkunjung ke Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang, Rabu (27/03). Mulai sholat berjamaah, hingga bertemu Kiai Maimoen Zubair.

Rembang – Pelaksana Tugas Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Suharso Monoarfa sempat ingin menangis, ketika memberikan sambutan dalam kunjungannya di kediaman Kiai Maimoen Zubair, kompleks Pondok Pesantren Al Anwar Desa Karangmangu, Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang, Rabu sore (27 Maret 2019).

Hal itu terkait dengan Ketua Umum PPP sebelumnya, Romahurmuziy yang ditangkap petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), karena diduga terlibat kasus suap jual beli jabatan di lingkungan Kementerian Agama.

Saat memberikan sambutan di depan para Caleg PPP, Suharso Monoarfa menyampaikan PPP sudah menghasilkan tokoh – tokoh besar sejak zaman Orde Baru. Namun setelah Pemilu 2004 dan 2009, ia menganggap kemungkinan PPP lupa, setelah dekat dengan kekuasaan. Tertangkapnya Romy (panggilan akrab Romahurmuziy) bisa saja sebagai teguran.

“Ada nama pak Hamzah Haz menjadi Wakil Presiden, ada Buya Ismail Matareum yang pernah jadi Wakil Ketua MPR menyampaikan kata pertama Reformasi, kemudian yang berani mengusulkan jadi calon presiden di zamannya pak Harto, itu pak Naro juga Ketua PPP. Tetapi memang mungkin itu sebuah peringatan, setelah tahun 2004 dan 2009 mungkin kita terlalu senang lebih dekat kepada kekuasaan. Mungkin lupa. Banyak cara Allah untuk menegur kita, “ kata Suharso.

Sambutan Suharso terhenti sejenak. Dengan mata berkaca – kaca, Suharso berharap musibah yang dialami, akan memberikan energi baru bagi PPP. Ditengah mepetnya waktu, ia mendorong calon legislatif bekerja keras, supaya PPP mampu lolos ambang batas parlemen atau parliamentary treshold 4 %. Kalau sampai PPP hilang, ia merasa akan menjadi beban sejarah.

“Semoga Pemilu 17 April kita tetap ada di kancah politik nasional. Karena kalau hilang, saya beban itu luar biasa. Akan menjadi beban sejarah. Waktu saya diminta Mbah Moen (Kiai Maimoen Zubair-Red) menjadi Pelaksana Tugas Ketum, tangan saya dipegang. Mbah Moen mengatakan selamatkan partai dan jangan bilang tidak. Saya bilang sama beliau, sami’na wa atho’na, “ imbuh Suharso disambut tepuk tangan tamu yang hadir.

Seusai menyampaikan sambutan, ketika ditanya wartawan kenapa nyaris menangis, Suharso merasa harus menjaga perahu PPP tidak karam. Tetapi sebaliknya harus bergerak lebih cepat.

“Situasinya injury time. Saya tidak bisa membagi strategi secara terbuka. Strategi akan lebih bersifat individual, karena kondisi daerah pemilihan berbeda – beda. Tapi yang pasti kami bekerja. Insyaallah kami bisa melampaui ambang batas parlemen 4 %, meski survei – survei bilang terancam nggak lolos, “ tandasnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Syariah PPP, Kiai Maimoen Zubair mengajak untuk memperbaiki dan menguatkan PPP, pasca tertangkapnya Ketua Umum PPP, Romahurmuziy.

“Ketua umumnya yaitu Romahurmuziy kena kasus jadi tersangka di KPK. Oleh karena itu partai ini harus diperbaiki, “ ungkap Mbah Moen.

Di sela – sela kunjungan, Suharso Monoarfa mengajak para tamu dengan yel – yel “Yuk Nyoblos Ka’bah”. Suaranya menggema diikuti puluhan orang, sampai ke halaman pondok pesantren.

Seusai silaturahmi di kediaman Kiai Maimoen Zubair, Suharso bersama rombongan melanjutkan safari politik ke Jawa Timur, daerah yang menjadi lokasi penangkapan Romahurmuziy. Menurut Suharso, Jawa Timur dianggap sebagai daerah yang suaranya untuk PPP rawan menurun, sehingga perlu ada perhatian khusus. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *