Menegangkan, 2 Lokasi Di Rembang Menjadi Sasaran OTT
Suasana OTT yang cukup menegangkan, Senin dini hari (18/03).
Sarang tawon yang menjadi sasaran OTT, Senin dini hari (18/03).

Rembang – Petugas pemadam kebakaran Pemkab Rembang bersama sejumlah relawan, sejak Minggu malam hingga Senin dini hari (18 Maret 2019) melakukan OTT. Bukan Operasi Tangkap tangan seperti halnya petugas KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), tetapi mereka menamakan OTT dengan kepanjangan operasi tangkap tawon. Hal itu karena keberadaan sarang tawon, meresahkan masyarakat sekitar.

Seorang relawan yang ikut dalam OTT tersebut, Syaiful Halim menjelaskan OTT berlangsung di dua lokasi, yakni Kasingan, Desa Sukoharjo dan Desa Pandean, Kecamatan Rembang Kota. Bedanya, untuk yang di Kasingan, posisi sarang dekat permukiman penduduk, namun akses jalan jarang dilalui warga. Sedangkan sarang tawon di Pandean lebih membahayakan, karena berada di dekat gang yang setiap hari ramai oleh lalu lalang warga melintas. Bahkan sudah ada beberapa warga disengat tawon, termasuk seekor kucing peliharaan warga setempat mati, gara – gara disengat lebah.

“Yang di Desa Pandean ini paling berbahaya, karena dekat dengan gang yang biasa jadi perlintasan masyarakat. Belum lama ini kucing peliharaan warga mati disengat tawon. Warga yang disengat juga ada. Karena resah, mereka akhirnya laporan ke Posko Damkar, minta bantuan, “ ujarnya.

Syaiful Halim menambahkan sarang tawon di Desa Sukoharjo menempel di pohon setinggi 2 Meter. Posisinya mudah dijangkau, sehingga tinggal dimasukkan ke dalam karung dan sarang langsung dievakuasi. Sementara untuk sarang tawon di Desa Pandean, menempel di pohon belimbing setinggi 2 Meter. Karena agak sulit, sarang tersebut akhirnya harus dibakar. Detik – detik pembakaran sarang lebah cukup menegangkan, lantaran setelah itu tawon banyak yang kocar kacir berpindah tempat.

“Ukuran sarang tawon ya lumayan besar. Lokasi pertama relatif cukup mudah. Tapi untuk lokasi kedua, kita perlu ekstra hati – hati. Semuanya pakai helm penutup. Sarang kita bakar. Kenapa kok dipilih malam hari, karena mempertimbangkan faktor keamanan. Resiko disengat lebah lebih rawan kalau evakuasi dilakukan siang hari, saat kondisi terang, “ imbuh pria warga Desa Pamotan ini.

Setelah ditangani oleh petugas Damkar bersama relawan, masyarakat di kedua kampung tersebut merasa lebih tenang. Suprapto, seorang warga Desa Pandean mengaku tidak lagi merasa was – was. Menurutnya, serangan lebah sulit terdeteksi dan dampak sengatannya bisa saja membuat orang masuk rumah sakit.

“Alhamdulilah bisa dibereskan. Semoga nggak ada sarang tawon lagi. Soalnya kalau kita nggak ahli dan pakai pelindung seluruh badan, takut juga mau menggusur sarang lebah, “ tuturnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *