Offroader Wanita Rembang, Ceritakan Kenapa Sampai Ketagihan Naik Jeep
Dyah “Mugi”, offroader wanita di Rembang.
Dyah “Mugi”, offroader wanita di Rembang.

Rembang – Di dalam Indonesia Off-Road Federation (IOF) Kabupaten Rembang, anggotanya tak melulu diisi kalangan laki – laki. Ternyata ada juga beberapa kaum wanita. Para emak – emak ini bahkan cukup lihai menaklukkan jalur ekstrim sekalipun.

Salah satunya Dyah “Mugi” atau akrab disapa Bu Mugi, warga Desa Sumberejo, Rembang. Wanita paruh baya ini mengaku sudah cukup lama hobi naik mobil jeep. Belakangan yang jadi andalannya, sebuah mobil katana keluaran tahun 1995, namun sudah dimodifikasi menjadi jeep offroad.

Menurut Dyah, hampir setiap hari lebih senang mengemudikan jeep untuk menunjang aktivitas, meski di rumahnya kebetulan memiliki sejumlah mobil. Baginya di belakang kemudi jeep terasa lebih menantang. Kalau ada jalur – jalur yang tergolong susah, tetap bisa dilalui dengan mobilnya tersebut.

“Hampir tiap hari kok saya jalan pakai jeep. Lebih menantang rasanya. Bagus dan nyaman saja sich, meski mungkin suspensinya lebih keras, ketimbang mobil lainnya. Selama ini nggak ada kendala apa – apa. Kalau naik jeep, asyik pokoknya, “ kata wanita yang lama bekerja di Perum Perhutani ini.

Dyah menambahkan dengan ikut offroad, dirinya mendapatkan sejumlah manfaat. Selain sebagai sarana berolahraga, juga merupakan ajang refreshing menikmati pemandangan alam dan yang pasti menambah teman. Asal kondisi badan dan mobilnya fit, jalur seekstrim apapun siap dilahap.

“Kebanyakan sich ikut jalur yang fun, untuk yang esktrim kadang ikut kadang nggak. Saya waktu ikut di jalur hutan Gunem – Sale ditemeni sama Bu Hendro dari Kelurahan Magersari. Kalau pak Hendro kan nyetir sendiri, nah jadi bu Hendronya sama saya, “ imbuhnya.

Ia membenarkan dunia offroad memang lebih banyak didominasi kaum laki – laki. Keikutsertaannya sekaligus menjadi bukti bahwa kaum wanita pun bisa. Namun tiap kali akan berangkat offroad, Dyah tetap tidak lupa meminta izin sang suami dulu.

“Kalau diizinkan ya berangkat. Tapi kalau suami melarang, ya patuh. Mungkin pertimbangannya jalur yang dilewati terlalu ekstrim. Demi kebaikan saya juga kan, “ pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *