Gerakan Membeli Barang Di Daerah Sendiri, Bupati Ungkap Tujuannya
Transaksi jual beli di Pasar Sulang, Rembang belum lama ini.
Transaksi jual beli di Pasar Sulang, Rembang belum lama ini.

Rembang – Bupati Rembang, Abdul Hafidz menyerukan gerakan membeli barang di daerah sendiri.

Kalau di desa ada, warga diharapkan membeli di desanya sendiri. Begitu pula secara berjenjang, di kecamatan dan kabupaten setempat.

Hafidz mengungkapkan dengan cara tersebut, adalah salah satu bentuk mencintai kampungnya, sehingga perputaran uang di daerah akan meningkat. Ia berharap pola pikir masyarakat diubah, karena sekarang ini persaingan sudah antar desa, bukan lagi antar negara.

Solusi Keluhan Lambung

Ia mencontohkan sering warga pelosok pedesaan di Kabupaten Rembang menjual pisang ke Pasar Rembang maupun Pasar Juana, Kabupaten Pati. Kemudian pisang dibeli orang Kudus dan dibuat ceriping pisang. Setelah itu ceriping pisang disetor ke Rembang dan dibeli warga Kabupaten Rembang lagi.

“Pisang dijual ke pasar, dibeli orang Kudus. Habis itu dibikin ceriping pisang, disetor lagi ke sini. Yang untung orang Kudus. Lha makanya ayo do nyintai desanya sendiri, beli barang ya di desa sendiri. Kacek (terpaut-red) Rp 100 – 200 nggak masalah. Yang penting perputaran uang bisa meningkat, dan memberikan dampak positif buat ekonomi kita, “ ungkapnya.

Abdul Hafidz mendorong pemerintah desa lebih menggiatkan program pemberdayaan masyarakat, melalui kucuran Dana Desa. Pemberdayaan masyarakat bisa mengembangkan industri – industri rumahan, dengan mengoptimalkan potensi yang ada di desa.

“Potensi di desa apa, ceriping ketela misalnya, ayo dibikin. Setelah itu disetor ke pasar – pasar. Sekarang ini nggak ada barang yang nggak laku, pasti laku. Jangan hanya ketela disetor ke Pati dengan harga murah. Soalnya di era kompetisi kalau kita nggak tangkas mengambil peluang, maka akan ketinggalan, “ imbuhnya.

Hafidz menambahkan ada dua desa yang menjadi proyek percontohan industri rumahan, yakni Desa Pasar Banggi dan Desa Tritunggal, Kecamatan Rembang Kota. Mereka memanfaatkan ikan, untuk diolah menjadi berbagai komoditas makanan olahan. Setelah dikemas bagus, harganya di pasaran menjadi lebih mahal. Tujuan akhirnya, demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *