Mengemas MoroWoro, Jurus Mengalahkan Predikat Desa Miskin
Bupati Rembang, Abdul Hafidz menanam pohon saat menghadiri event “MoroWoro” di Desa Woro, Kecamatan Kragan. (Gambar atas) Salah satu kegiatan “MoroWoro”, Kamis (20/12).
Bupati Rembang, Abdul Hafidz menanam pohon saat menghadiri event “MoroWoro” di Desa Woro, Kecamatan Kragan. (Gambar atas) Salah satu kegiatan “MoroWoro”, Kamis (20/12).

Kragan – Ada satu desa di Kecamatan Kragan yang mempunyai potensi perkebunan dan alam berlimpah, namun hingga saat ini masih termasuk kategori desa termiskin. Yah..begitulah sekilas nasib Desa Woro, Kecamatan Kragan, sebuah perkampungan di kaki perbukitan Kecamatan Kragan bagian barat.

Kondisi memprihatinkan itu mendorong kalangan pemuda di desa tersebut, menggelar event “MoroWoro”, Kamis pagi (20 Desember 2018). MoroWoro dikemas dengan cara mengarak hasil bumi perkebunan, yang paling diunggulkan adalah buah duku dan durian asli Desa Woro. Selain itu, warga juga menggelar aksi jelajah wisata, menyusuri perbukitan dan daerah aliran sungai di sebelah selatan Desa Woro yang menyuguhkan panorama keindahan alam.

Camat Kragan, Prapto Rahardjo membenarkan Desa Woro merupakan desa termiskin di Kecamatan Kragan. Ia pun sangat mendukung berlangsungnya event “MoroWoro”, sebagai sarana mengenalkan potensi daerah. Diharapkan nantinya masyarakat luas semakin mengenal dan tertarik berkunjung ke Desa Woro. Apabila kelak potensi terangkat, bisa memberikan dampak positif bagi ekonomi masyarakat setempat, karena akan muncul simpul – simpul ekonomi baru.

“Kami berharap event seperti ini dapat berlangsung setiap tahun, sehingga potensi perkebunan, alam maupun potensi ekonomi lainnya dapat terangkat. Di sini ada bukit nganten, kemudian air terjun. Monggo Pemerintah Desa Woro untuk memfasilitasi, agar kedepan Woro tidak lagi menjadi desa miskin, “ kata Prapto.

Sementara itu, Bupati Rembang, Abdul Hafidz yang hadir di Desa Woro mengatakan dalam pengelolaan potensi daerah, salah satu kendalanya yakni bagaimana caranya mengenalkan potensi. Maka Hafidz mendorong kepada masyarakat, utamanya kaum pemuda Desa Woro giat mempromosikan potensi desa. Setelah dipromosikan, kemudian dikelola dengan baik, sehingga kelak Woro mampu menjadi desa mandiri.

“Melalui adik – adik remaja ini saya minta giat mempromosikan desa masing – masing. Apa yang dilakukan di Woro merupakan salah satu cara mengenalkan potensi desa. Sekaligus dapat memberikan pencerahan kepada publik. Harapan saya, Woro dapat menjadi desa yang mandiri. Amin ya robbal alamin, “ ujarnya.

Selama kegiatan “MoroWoro”, tidak hanya diisi dengan mengarak hasil bumi dan jelajah alam, namun ada sejumlah kegiatan lain, seperti bazar usaha mikro kecil menengah (UMKM), seni pencak dor, lomba bisnis remaja, penanaman pohon, kemudian lomba vlog stop pernikahan anak dan lomba vlog wisata MoroWoro. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *