Ulama & Nabi Palsu, Begini Sentilan KH. Anwar Zahid
KH. Anwar Zahid memberikan ceramah saat kegiatan Rembang Bersholawat, Sabtu malam (15/12).
KH. Anwar Zahid memberikan ceramah saat kegiatan Rembang Bersholawat, Sabtu malam (15/12).

Rembang – Umat diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh seseorang yang mengenakan atribut seperti ulama. Tetapi harus mampu memilah – milah, apakah yang bersangkutan memang benar ulama atau hanya berpenampilan layaknya ulama.

KH. Anwar Zahid menyampaikan hal itu, saat mengisi pengajian “Rembang Bersholawat” di halaman Kantor Bupati Rembang, Sabtu malam (15/12). Ia mengajak masyarakat berpikir cerdas, sehingga tidak tertipu oleh penampilan. Apalagi jika mengaku ulama, ternyata perilakunya sering bikin ribut dan hasut.

“Jangan karena surbannya besar, langsung disebut sebagai ulama. Mengko bapakmu arep ngedos, sirahe diubel-ubel, yo dianggep ulama. Emas itu umumnya berwarna kuning, tapi nggak setiap yang berwarna kuning itu emas. Lha kalau pagi – pagi itu ke WC, apa iya dianggap emas. Begitu pula ulama umumnya pakai surban, tapi nggak setiap yang bersurban adalah ulama, “ bebernya.

Solusi Keluhan Lambung

Anwar Zahid kemudian mengingatkan deretan data warga Indonesia, justru lebih berani dengan mengaku – ngaku sebagai nabi. Mulai kisah Ahmad Musaddeq yang profesi aslinya guru olahraga, kemudian Suyuti seorang tukang cukur di Bandung, Jawa Barat. Ada pula nama Tugimin, mengaku menjadi nabi pada agama yang diklaim bernama Jawa – Sunda (Jasun). Masyarakat juga sempat dihebohkan oleh Lia Eden, mengklaim jelmaan Malaikat Jibril. Mereka akhirnya diproses secara hukum, karena dianggap sesat dan menyesatkan.

“Musaddeq ngaku dapat wahyu di Bogor. Lha sakiki laopo malaikat kok tekan Bogor, opo arep ne Puncak. Lia Aminudin kok ngaku malaikat Jibril, mosok malaikat menstruasi. Yang di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat, terdapat nama agama baru Jawa – Sunda, nabinya bernama Tugimin. Jadi kiai saja namanya gak pantes blas. Di Indonesia sudah terlalu banyak yang ngaku nabi. Setelah Nabi Muhammad SAW, nggak ada nabi lagi, “ imbuh Anwar Zahid.

Selain menghadirkan KH. Anwar Zahid dari Bojonegoro – Jawa Timur, Rembang Bersholawat juga diisi oleh Habib Syech bin Abdul Qodir bin Abdurrahman Assegaf dari Solo. Sepanjang kegiatan, kebetulan turun hujan gerimis. Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat umat, untuk mengikuti acara sampai selesai. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *