Kantor Bawaslu Mendadak Berubah Fungsi, Jadi Apa ?
Ketua Bawaslu Kabupaten Rembang, Totok Suparyanto menjadi pengajar dalam Sekolah Pengawasan, hari Jum’at (14/12).
Ketua Bawaslu Kabupaten Rembang, Totok Suparyanto menjadi pengajar dalam Sekolah Pengawasan, hari Jum’at (14/12).

Rembang – Kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Rembang di Jl. Pemuda dekat Kecamatan Rembang Kota, tiap hari Jum’at, mendadak berubah seperti ruang kelas sekolah.

Nah..usut punya usut ternyata tiap Jum’at, Bawaslu Kabupaten Rembang membuka Sekolah Pengawasan. Ada satu ruang yang disulap menjadi kelas, kemudian komisioner Bawaslu mengajar secara bergiliran, layaknya seorang guru.

Ketua Bawaslu Kabupaten Rembang, Totok Suparyanto menjelaskan sekolah pengawasan merupakan salah satu cara untuk mewujudkan Pemilu yang lebih berkualitas. Apalagi dalam Undang – Undang diamanatkan, jajaran Pengawas Pemilu harus melakukan pencegahan, sebelum penindakan. Diharapkan apabila masyarakat semakin paham berdemokrasi, nantinya bisa mengurangi jumlah pelanggaran Pemilu.

Setiap kelas diisi 20 orang, sasarannya masyarakat Kabupaten Rembang. Namun sementara ini mayoritas berasal dari kalangan mahasiswa. Bawaslu memberikan materi tentang pemutakhiran data pemilih, kampanye, pemungutan dan penghitungan suara. Tapi ada pula wawasan seputar demokrasi, dengan mendatangkan pakar khusus dari pihak luar.

“Ada 5 kali tatap muka, 2 kali 45 menit, dari Bawaslu mata pelajarannya tentang Pemilu. Lha pengajar di luar Bawaslu juga ada, namanya tatap mata khusus, dengan menghadirkan pakar. Yang ini pesertanya dihadirkan semua, “ ucapnya.

Totok menambahkan Sekolah Pengawasan dibagi dalam dua sesi, yakni pagi dan siang hari. Ia menegaskan tidak ada sokongan anggaran, untuk melaksanakan Sekolah Pengawasan. Maka diadakan secara sederhana, yang penting pesan – pesan dari Bawaslu dapat diterima dengan mudah oleh para siswa.

“Kelas pagi antara pukul 09.30 sampai dengan 11.00 Wib, sedangkan kelas siang dari pukul 13.30 – 16.00 Wib. Semua kami lakukan tanpa back up anggaran. Ini murni ikhtiar kami, agar ada saluran untuk masyarakat menimba ilmu, “ imbuhnya.

Sejumlah mahasiswa mengaku terbantu dibukanya Sekolah Pengawasan ini. Moch. Hujjaz, warga Desa Kragan Kecamatan Kragan mengaku semula kurang begitu memahami masalah Kepemiluan, tetapi setelah mendapatkan materi dari pihak Bawaslu bisa lebih mengerti serba serbi dunia Pemilu.

“Ini ilmu yang cukup berharga bagi kami. Bisa menambah pengalaman, jadi kalau suatu saat misalnya kelak ikut jadi penyelenggara Pemilu, kita sudah punya dasar – dasarnya, “ beber mahasiswa STIE YPPI ini. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan