Group Thomson : Terus Berkembang Ditengah Badai Tantangan

Owner Group Thomson foto bareng dengan crew Thomson Bali, salah satu radio termuda yang dimiliki Group Thomson.

Semarang – Media radio tetap bertahan, termasuk di negara maju seperti Amerika Serikat. Meski banyak menghadapi tantangan, radio di Indonesia juga masih eksis sampai sekarang.

Heru Soleh, seorang praktisi radio menyampaikan hal itu ketika memberikan paparan di tengah rapat kerja radio Group Thomson di Hotel Grasia Semarang, Sabtu (08/12).

Menurut Heru, radio di Amerika paling banyak didengarkan ketika jam – jam warga berada di jalan raya, sambil mengemudikan mobil. Radio tidak hanya mengabarkan berbagai informasi, tetapi bahkan radio mampu mengarahkan pengguna jalan, untuk singgah ke lokasi –lokasi tertentu yang menyediakan fasilitas diskon.

“Radio belum tergilas oleh zaman. Nyatanya di Amerika saja masih konsisten. Pernah tuch ada penyiar bilang gini, anda yang lagi mengemudikan mobil, di depan ada Kentucky menyediakan diskon 10 %, buat anda yang tengah mendengarkan siaran ini. Langsung dech, mereka yang dengerin mampir dan itu sangat efektif, “ ujar Heru.

Meski demikian Heru Soleh turut mengingatkan fenomena era digital yang bisa berdampak terhadap radio. Ia mencontohkan sulitnya mencari tenaga, karena muncul kecenderungan generasi muda belakangan ini, ingin bekerja yang bisa menentukan jam kerja sendiri, tanpa terikat aturan perusahaan. Saat dirinya masih bekerja sebagai Manajer Riset di Radio Suara Surabaya beberapa tahun silam, hal itu sudah terasa. Apalagi ketika pihaknya mencari tenaga marketing, ternyata jauh lebih susah.

“Waktu itu sampai kita harus pakai PO Box, jadi nggak kita sebutkan yang buka lowongan Suara Surabaya. Tapi resikonya buanyak sekali yang melamar dari berbagai latar belakang pendidikan, susah juga nyeleksinya. Kalau sekarang dengan era digitalisasi, kemungkinan akan jauh lebih sulit. Makanya harus pinter – pinter menyiasati, “ terangnya.

Heru kemudian mendorong supaya radio pada masa sekarang untuk mengembangkan program siaran yang sifatnya benar – benar lokal, sehingga menjadi daya tarik masyarakat, sekaligus mengikat pengiklan. Selain itu, radio juga harus mengikuti perkembangan online, sehingga materi siaran bisa merambah ke segmen lebih luas.

“Saya kira Group Thomson mampu melakukan hal ini. Terbukti jumlah radionya terus bertambah menjadi 35 an lebih, tersebar di Pulau Jawa dan Bali. Mereka punya sistem sudah  terintegrasi. Selamat buat pak Thomas dan pak Ony, semoga target punya 99 radio dapat tercapai, “ pungkas Heru. (Musyafa Musa).

 

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *