Akibat Penjarahan Pohon, Ini Dua Dampak Yang Semakin Dirasakan
Perbukitan Desa Woro, Kecamatan Kragan.
Perbukitan Desa Woro, Kecamatan Kragan.

Kragan – Upaya Perhutani menanami perbukitan di Kabupaten Rembang dengan pohon jenis kayu – kayuan (tanaman keras), sering menghadapi kendala. Salah satunya penjarahan warga, ketika pohon sudah besar dan rimbun.

Di perbukitan Desa Woro, Kecamatan Kragan misalnya. Perhutani pernah menanam pohon mahoni dan sengon. Dalam waktu 5 tahun tumbuh sangat lebat, namun setelah itu habis dijarah masyarakat.

Sekretaris Desa Woro, Ragil Riyanto mengatakan kondisi tersebut kerap memicu bencana banjir saat musim penghujan dan masyarakat pula yang menanggung imbasnya.

“Pengalaman masa lalu ya semoga nggak terulang lagi. Nanam mahoni sama sengon, 5 tahun lebatnya luar biasa, tapi 5 tahun juga habis. Kan jumlah petugas perhutani yang jaga bisa dihitung, masyarakatnya nggak bisa dihitung. Waktu itu pencurian sengon marak terjadi sampai malam. Sekarang yang dirasakan apa, ya banjir, karena kesadaran warga kurang, “ beber Ragil, beberapa waktu lalu.

Ragil menambahkan masyarakat memang diperbolehkan menanami lahan Perhutani, tapi harus jenis pohon keras, agar mampu mengikat tanah dan sumber air. Kenyataannya kurang diikuti masyarakat, karena warga cenderung lebih memilih menanam cabai, ketela dan pisang, berdalih bisa cepat memanen. Akibatnya, potensi kerawanan bencana tanah longsor meningkat dan penurunan debet air belakangan cukup drastis.

“Jadi ada yang beda antara kepentingan Perhutani sama warga. Kalau cabai, ketela sama pisang kan nggak bisa mengikat tanah dan menahan sumber air. Memang cepet dapat hasil. Saya masih inget waktu kecil, sungai di sini tetap mengalir meski kemarau. Di bawah – bawah sana bisa memanfaatkan air bergiliran. Kalau sekarang susah mas, “ imbuhnya.

Pihak desa terus berupaya memberikan pemahaman untuk menambah tanaman yang cocok dengan kawasan perbukitan. Salah satunya mendorong kalangan Karang Taruna dan pegiat lingkungan bergerak menghijaukan. Apalagi masih banyak lahan kosong yang bisa diberdayakan. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *