Kisah Khumaidah Dan Mobil Ambulance Yang Menguras Air Mata
Khumaidah bersama suaminya saat tampil di program talkshow “Hitam Putih”. (gambar atas) Detik – detik saat Khumaidah mendapatkan mobil ambulance (Dok. Trans7).
Khumaidah bersama suaminya saat tampil di program talkshow “Hitam Putih”. (gambar atas) Detik – detik saat Khumaidah mendapatkan mobil ambulance (Dok. Trans7).

Sedan – Seorang warga Desa Gandrirojo Kecamatan Sedan, Khumaidah mendapatkan hadiah mobil ambulance dari program Talkshow Hitam Putih di sebuah stasiun TV swasta nasional.

Wanita berusia 35 tahun itu didampingi suaminya, Darsan, ketika mendapatkan kejutan tersebut. Usai tampil di talkshow, Khumaidah sudah kembali ke kampungnya, Jum’at dini hari (30/11/2018).

Kepada Reporter R2B, dirinya menceritakan awal mula menjadi relawan yang tergabung dalam tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSK). Profesinya ia jalani selama 5 tahun. Pertama kali mendampingi warga yang terganggu kejiwaannya ke rumah sakit jiwa (RSJ) Aminogondo Semarang, karena sudah berulang kali membakar rumah tetangga.

Meski kala itu keluarganya juga sedang menghadapi kesusahan, namun dari kejadian mengantar warga di rumah sakit jiwa, membuatnya sadar ternyata masih banyak warga hidup lebih susah ketimbang dirinya. Setelah itu, ia sering mendampingi warga yang menghadapi masalah sosial. Kemungkinan informasi tersebut didengar oleh tim “Hitam Putih”, sehingga ia bersama suami yang juga relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana), berkesempatan diundang ke Jakarta.

“TKSK kan menginduk sama Dinas Sosial. Kebetulan ada kepala desa di Kecamatan Sedan minta tolong untuk mengantarkan warga yang terganggu kejiwaannya. Kabarnya sudah 4 kali membakar rumah warga. Ya waktu nganter ke Semarang, suami juga ikut. Seperti itu awalnya, “ kenang Khumaidah.

Khumaidah mengaku saat tahu mendapatkan mobil ambulance, dirinya sempat kaget dan jatuh pingsan. Ia lemas, karena tidak mengira akan menerima barang seperti itu. Ternyata masyarakat di Kabupaten Rembang yang menonton tayangan tersebut, juga banyak yang menangis dan merasa trenyuh. Ia menegaskan mobil tersebut bukan untuknya, tapi untuk masyarakat. Setidaknya, keperluan sarana transportasi saat mendampingi warga yang membutuhkan, sekarang sudah tersedia.

“Waktu talkshow memang saya cerita butuh sekali mobil ambulance. Lha kemudian mas Dedy Corbuzier ngasih tahu pengin memberi bingkisan kecil. Saat dengar sirine ambulance, badan saya langsung lemes. Ternyata banyak yang kirim Whatsap ke saya, mereka bilang nonton TV di rumah, juga ikut nangis terharu. Ini mungkin do’a dari warga yang pernah kami dampingi, “ kata ibu dua anak ini sambil terisak.

Khumaidah menambahkan kedepan masih ingin membantu pengentasan masalah sosial, terutama di wilayah Kecamatan Sedan. Baginya, tidak harus menunggu kaya dulu, agar bisa membantu. Termasuk punya hasrat ingin membuat film dokumenter yang mengisahkan anak – anak penderita HIV/Aids. Mereka tidak berdosa, tapi kini harus menanggung penderitaan.

“Bahagia rasanya bisa bantu orang. Yang ada dalam benak saya masih banyak. Pengin buat film dokumenter anak – anak penderita HIV/Aids. Kasihan mereka harus berjuang antara hidup dan mati, padahal nggak tahu apa – apa. Lewat film semacam itu, bisa jadi pembelajaran buat masyarakat, “ ungkap Khumaidah.

Khusus mobil ambulance, kebetulan masih berada di Jakarta. Namun untuk dokumen kendaraan sudah dibawa. Dalam waktu dekat ini akan diambil rekannya, karena sang suami belum bisa mengemudikan mobil. Soal bagaimana operasional mobil ambulance kelak, Khumaidah tak terlalu memikirkan hal itu.

“Yang penting niat, pasrah saja mas. Insyaallah bisa jalan, lha wong niatnya untuk bantu warga yang susah, semoga semua diringankan, “ pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *