Komoditas Menjanjikan Yang Kurang Dilirik
Deretan pohon cengkeh di perbukitan Desa Woro, Kecamatan Kragan.
Deretan pohon cengkeh di perbukitan Desa Woro, Kecamatan Kragan.

Kragan – Pihak Desa Woro, Kecamatan Kragan ingin mengoptimalkan potensi tanaman cengkeh.

Sekretaris Desa Woro, Ragil Riyanto memperkirakan ada 100 orang warganya yang membudidayakan tanaman cengkeh, dengan rata – rata per orang memiliki 50 an batang pohon. Saat panen terakhir, harga cengkeh basah mencapai Rp 27 ribu per kilo gram. Menurutnya, lahan milik Perhutani di perbukitan Desa Woro masih sangat luas, sehingga bisa dimanfaatkan untuk pengembangan cengkeh.

“Kalau jual, biasanya ya sama tengkulak. Jumlah pohon nggak sebanyak dulu, karena belakangan ada yang ditebang dan digantikan tanaman lain. Memang suatu ketika pernah cengkeh itu nggak laku, “ terang Ragil.

Ragil menambahkan jika dibandingkan dengan pohon mangga, sebenarnya komoditas cengkeh lebih menguntungkan. Ia mencontohkan cengkeh di lahan Perhutani, sempat laku antara Rp 800 – 900 ribu per pohon. Bagi warga yang mengantongi modal besar, terkadang cengkeh dikeringkan dulu, baru kemudian dijual ke pasaran, untuk mendapatkan harga tinggi.

“Tapi ya jarang yang dikeringkan. Kebanyakan langsung ditebaske dari pohonnya. Yang milik Perhutani itu malah diambili warga. Petugas Perhutani juga nggak minta bagi hasil kok. Kecuali pas tahu, ya dikasih dikit lah. Silahkan jika anak – anak muda Karang Taruna mau ikut nanam, “ bebernya.

Selama ini, cengkeh tidak hanya untuk menunjang industri rokok, namun tanaman tersebut juga bermanfaat di bidang kuliner, kecantikan dan kesehatan. Paling banyak sebagai bahan obat bius. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *