Demi Pendidikan, Siswa Jalan Kaki Menembus Hutan Tiap Hari
Danramil Bulu, Kapten Mustamir, berkoordinasi dengan anggota di pos komando. (gambar atas) Pelajar warga Dusun Ngotoko, Desa Pasedan berjalan kaki saat pulang sekolah.
Danramil Bulu, Kapten Mustamir, berkoordinasi dengan anggota di pos komando. (gambar atas) Pelajar warga Dusun Ngotoko, Desa Pasedan berjalan kaki saat pulang sekolah.

Bulu – Anak – anak Dusun ngotoko, sebuah dusun terpencil di Kabupaten Rembang harus berjuang setiap hari, saat berangkat maupun pulang sekolah. Mereka menembus tengah hutan, demi mendapatkan pendidikan. Kini setelah ada program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) reguler, beban para pelajar semakin berkurang.

Dusun Ngotoko Desa Pasedan, Kecamatan Bulu, berada di tengah hutan perbatasan Kabupaten Rembang dengan Kabupaten Blora. Di dusun tersebut dulu pernah beroperasi Sekolah Dasar Negeri, namun sekarang tidak ada, karena diregrouping dan menginduk di SD N I Pasedan. Jarak antara Dusun Ngotoko dengan Desa Pasedan 3 kilo meter. Praktis, kalau pulang pergi, totalnya mencapai 6 kilo meter.

Saat berangkat maupun pulang sekolah, sebagian pelajar berjalan kaki. Namun ada pula yang diantar jemput menggunakan sepeda motor. Begitu turun hujan deras, sering kali pelajar terpaksa membolos, gara – gara jalan rusak berlumpur.

Belakangan setelah berlangsung program TMMD reguler, siswa merasa lega. Jalan yang semula rusak parah, kini mulai dimakadam dan dibeton. Akses anak – anak pun lebih lancar.

Rudianto, seorang pelajar warga Ngotoko menuturkan berangkat sekolah sekira pukul 05.30 dengan berjalan kaki. Rasa lelah menembus jalan tengah hutan, baginya sudah hal biasa.

“Nggak ada yang antar jemput mas, karena orang tua sibuk pergi ke ladang. Kebetulan ada sejumlah teman sama – sama jalan kaki kok, “ tuturnya.

Pelajar lain, Yunita Anggiana Listi mengaku senang kampungnya menjadi sasaran TMMD reguler. Paling tidak, waktu tempuh menuju Desa Pasedan lebih cepat.

“Saya berangkat dan pulang sekolah diantar jemput. Yang paling berat kalau siang hari, panas dan berdebu. Kalau jalan kaki pasti capek, “ kata Yunita.

Sampai hari Minggu (21 Oktober 2018) proses perbaikan jalan dalam program TMMD Reguler, masih terus berlangsung.

Komandan Rayon Militer Bulu, Kapten Mustamir menjelaskan ketiadaan jaringan telefon selular, menjadi kendala tersendiri. Akibatnya, tenaga personel di lapangan sering kesulitan berkomunikasi melalui telefon selular, sehingga harus bolak – balik menuju pos komando di Desa Pasedan, tiap kali ada keperluan.

“Wilayahnya kan di kawasan hutan, yang merepotkan sinyal HP ini sulit. Untuk mengatasi kalau ada yang ingin dikoordinasikan, mereka harus ke sini di pos. Kadang Satgas harus mencari posisi ketinggian, sampai dapat jaringan, “ paparnya.

Kapten Mustamir menambahkan dalam program TMMD Reguler, Kodim Rembang mendapatkan bantuan 1 kompi pasukan atau sekira 150 personel Batalyon 04/10 Blora. Mereka diandalkan untuk mengebut kegiatan fisik, salah satunya perbaikan jalan. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *