Over Fishing Jadi Masalah, Dislutkan Sebut Indikatornya
Nelayan di Kecamatan Kaliori berangkat melaut. Masalah over fishing belakangan ini sering dikeluhkan.
Nelayan di Kecamatan Kaliori berangkat melaut. Masalah over fishing belakangan ini sering dikeluhkan.

Rembang – Kondisi over fishing atau penangkapan ikan yang berlebihan sehingga mengganggu keseimbangan ekologi laut di pesisir pantai utara Kabupaten Rembang, diperkirakan semakin parah.

Salah satu indikatornya area penangkapan ikan nelayan tradisional saat ini bertambah jauh. Yang semula berada di jalur I dan II atau di bawah 12 Mil dari bibir pantai, sekarang mulai banyak nelayan memasuki jalur III.

Kepala Dinas Kelautan Dan Perikanan Kabupaten Rembang, Suparman menuturkan nelayan beralasan kalau hanya mengandalkan penangkapan ikan di jalur I dan II, hasilnya kurang optimal. Apalagi di jalur I dan II jumlah alat tangkap yang beroperasi, semakin bertambah. Mereka terpaksa mencari area lain, meski jaraknya lebih jauh.

“Pesisir pantai kita dari kaliori sampai Sarang kan jaraknya 63,5 kilo meter. Nelayan rajungan misalnya, nggak melulu di jalur I dan II. Masuk zona III dengan konsekuensi ongkos bahan bakar minyak membengkak pun ditempuh. Hal itu menjadi salah satu indikator over fishing yang harus ditangani kedepan, “ ujarnya.

Suparman menambahkan untuk mengurangi dampak over fishing, pihaknya melakukan penebaran benih ikan, rajungan dan kepiting di laut. Begitu pula, langkah yang sama ditempuh oleh Dinas Kelautan Dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah. Selain itu mendorong pengembangan hutan bakau, karena lokasi tersebut sangat potensial untuk perkembangbiakan biota laut.

“Saya kira antara masyarakat dan pemerintah harus sama – sama jalan, terintegrasi terus menerus. Penebaran benih ikan di laut sudah kita gencarkan tahun 2017. Beberapa hari lalu baru saja ditebar ratusan ribu benih ikan di hutan bakau Pasar Banggi. Mohon warga juga peduli dengan perluasan bakau, karena manfaatnya luar biasa, “ imbuh Suparman.

Langkah – langkah tersebut, menurutnya akan lebih efektif jika nelayan menghindari alat tangkap terlarang, yang dapat merusak ekosistem di laut. Sejauh ini maraknya alat tangkap larangan masih sulit diatasi. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *