Kisah Memilukan Anak Penderita HIV/Aids Dikucilkan, Harus 2 Kali Pindah TK
Ilustrasi penularan virus HIV/Aids.
Ilustrasi penularan virus HIV/Aids.

Sedan – Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang menyesalkan adanya kasus seorang anak perempuan berusia 5 tahun dari sebuah desa di Kecamatan Sedan dikucilkan, gara – gara terjangkit virus HIV/Aids.

Sang bocah kini terpaksa harus pindah sekolah TK sebanyak 2 kali, setelah ditolak orang tua/wali murid. Beruntung masih ada TK lain yang mau menerima, meski jaraknya dengan rumah lebih dari 10 kilo meter.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, John Budi menuturkan waktu itu guru TK di desa asal korban penderita HIV/Aids menyebarkan selebaran angket, untuk menyerap aspirasi orang tua/wali murid. Keputusan akhir mereka menolak, kalau anak yang terkena penyakit mematikan itu, masih bertahan di sekolah tersebut. Menurutnya, sangat kasihan, apalagi anak ini dari keluarga miskin dan orang tuanya sudah meninggal dunia akibat Aids.

“Selebaran dikasihkan orang tua/wali murid, lalu ditandatangani. Yang nggak tahu apa – apa ya jadi ikut nolak. Saya salahkan gurunya kenapa ikut – ikutan, kan mestinya dia membela murid. Trenyuh juga, apalagi anak ini kondisinya sehat dan cerdas lho, “ ungkapnya.

John Budi menyatakan Dinas Kesehatan sudah terjun langsung, untuk melakukan pendekatan dengan pemerintah desa setempat, guru maupun tokoh masyarakat. Ia menegaskan virus HIV/Aids tidak menular, meski anak – anak bermain bersama atau komunikasi dengan penderita. Salah satu penularan bisa terjadi lewat hubungan sexsual.

Hasil dari koordinasi tersebut, anak dengan penderita HIV/Aids tetap sekolah TK di tempat baru selama setahun. Kelak jika sudah memasuki kelas I SD, diharapkan bisa sekolah di desa sendiri, supaya akses pendidikannya tidak terlalu jauh.

“Kalau 10 sampai 15 kilo meter, apa nggak kasihan. Padahal di kampung sendiri, nggak sampai sekilo. Biar di TK barunya, karena jika cabut dari situ dan ternyata TK di desanya nolak lagi, malah repot. Yang penting saat masuk SD, biar kembali ke desanya, “ kata John.

Kasus warga mengucilkan penderita HIV/Aids sebelumnya juga pernah terjadi di desa lain, masih ikut Kecamatan Sedan. Kala itu seorang laki – laki dewasa terlantar di sebuah bangunan, tanpa penanganan. Setelah ramai menjadi sorotan sejumlah media, pria tersebut dipinjami sebuah ruangan di samping balai desa, dengan layanan pengobatan petugas Puskesmas.

Di Kabupaten Rembang, sejak tahun 2004 sampai tahun 2017, jumlah penderita HIV/Aids mencapai 438 orang. Dari jumlah itu, 155 diantaranya sudah meninggal dunia. Namun diperkirakan jumlah penderita jauh lebih banyak, karena belum terdata. (Musyafa Musa/ Diantoro).

News Reporter

1 thought on “Kisah Memilukan Anak Penderita HIV/Aids Dikucilkan, Harus 2 Kali Pindah TK

  1. Wah kasihan anak yg tidak bersalah jadi korban diskriminasi dari lingkungannya padahal yg salah ayahnya dia jadi korban juga. Seharusnya lingkungan tempat tinggal anak tersebut diberi pendidikan kesehatan ttg HIV dan Aids agar masyarakat tahu HIV dan Aids itu apa. Kasihan anaknya takutnya dia menjadi tidak percaya diri dan terkena mentalnya juga. Semoga dari Dinkes sendiri untuk bidang promkes (kalau ada) bisa bergerak dengan cepat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *