Buka Srawung Segara, Bupati Ultimatum Pelaku Pencemaran Laut
Bupati Rembang, Abdul Hafidz mengamati lukisan yang dipamerkan di pinggir Pantai Pasir Putih Dusun Wates, Senin (23/07).
Bupati Rembang, Abdul Hafidz mengamati lukisan yang dipamerkan di pinggir Pantai Pasir Putih Dusun Wates, Senin (23/07).

Kaliori – Untuk lebih mencintai laut, Pemerintah Kabupaten Rembang menggelar event bertajuk “Srawung Segara” di pinggir Pantai Pasir Putih, Dusun Wates, Desa Tasikharjo, Kecamatan Kaliori, mulai hari Senin (23 Juli 2018).

Bupati Rembang, Abdul Hafidz, menjelaskan kegiatan tersebut untuk lebih mengingatkan kepada masyarakat, agar lebih peduli menjaga dan melindungi laut.

Terkait Srawung Segara yang didalamnya ada larung sesaji tidak dimaknai bahwa laut dijaga makhluk halus. Tetapi yang menjaga adalah Allah SWT.

“Ritual ini jangan sampai dijadikan momentum untuk acara yang berseberangan dengan keyakinan. Karena srawung segara bertujuan kita dituntut untuk menjaga dan melindungi laut, “ tandasnya.

Bupati mencontohkan salah satu wujud srawung segara adalah dengan menjaga laut dari limbah dan pencemaran. Ia mendorong Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Rembang menindak tegas perusahaan yang tidak mempunyai instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Makakala perusahaan tidak memiliki IPAL dibiarkan beroperasi, akan mencemari laut, seperti yang terjadi di sekitar Pantai Pasir Putih Dusun Wates.

“LH (Lingkungan Hidup) jangan takut kalau perusahaan ikan tidak punya IPAL yang memadai untuk mengolah limbah ditutup. Jangan sampai terbius kalau perusahaan ditutup. Wong do nganggur. Itu kuno. Semua saling butuh. Harus tegas. Perusahaan yang tidak bisa menangani limbah. Harus ditindak sesuai aturan,” Imbuhnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan Dan pariwisata (Dinbudpar) Kabupaten Rembang, Dwi Purwanto membeberkan event Srawung Segara juga untuk menumbuhkembangkan rasa cinta terhadap seni tradisional, serta meningkatkan daya tarik wisata di Kabupaten Rembang.

Dwi Purwanto menerangkan acara Srawung Segara yang digelar selama 2 hari yaitu Senin – Selasa (23 – 24 Juli) diisi dengan larung sesaji, pameran fotografi dan lomba fotografi, panggung seni dari perwakilan sekolah dan perguruan tinggi, diskusi fotografi, tari komposisi, kethoprak padat lakon segara, kolaborasi wayang dan musik reggae. (MJ – 81).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *