Rela Tampung Air Limbah Dan Kencing Sapi, Demi Selamatkan Tembakau
Sudir menunjukkan tempat penampungan air limbah, untuk mengairi tanaman tembakau.
Sudir menunjukkan tempat penampungan air limbah, untuk mengairi tanaman tembakau.

Sumber – Demi menyelamatkan tanaman tembakau yang kekeringan, seorang petani di Desa Megulung, Kecamatan Sumber terpaksa harus menampung air limbah rumah tangga maupun kencing ternak sapi.

Begitulah cara yang dilakukan Sudir (46 tahun), petani yang mempunyai lahan tembakau seperempat hektar di sebelah barat Desa Megulung.

Sudir menceritakan pada awalnya menyedot air dari sumur, kemudian ditampung ke dalam sebuah lubang penampungan (jomblang). Namun belakangan ini debet air sumur maupun embung semakin menipis, apalagi peruntukannya lebih diprioritaskan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kalau membeli air, harganya tiap 1 rit tangki mencapai Rp 140 ribu. Dalam 2 – 3 hari, air sudah habis. Menurutnya berat, kalau terus – terusan membeli.

Hal itu yang melatarbelakangi dirinya menampung air limbah rumah tangga dari sekitar lahan tembakau. Bahkan kencing ternak sapi pun ikut ditampung lewat selokan, untuk mengairi tanaman tembakau.

“Cuaca sekarang semakin panas, jadi pengairan tanaman tembakau menjadi sangat vital. Gimana caranya bisa dapat air, ya saya buat jomblang, untuk menampung air bekas mencuci dan mandi warga. Di timur lahan saya, kebetulan permukiman penduduk. Kencing sapi juga masuk ke sini, “ terangnya sambil terkekeh.

Sudir menambahkan hampir setiap hari menyirami tanaman tembakau dengan air limbah tersebut. Nyatanya yang berada di dekat penampungan air, tanaman tumbuh sangat subur. Ia berharap akan mampu berkembang, sampai kelak bisa panen.

“Nggak ada yang mati, meski saya sirami dengan air limbah seperti itu. Alhamdulilah, kalau nggak ada air kayak gitu, entah saya harus gimana lagi. Masa panen masih agak lama, jadi memang air limbah ini sangat menolong, “ imbuhnya.

Petani tembakau lain di Desa Megulung, Sundoyo mengaku pada awal tanam, dirinya masih bisa menyedot air sungai. Begitu sungai kering, hanya mengandalkan air sumur, sehingga harus bolak – balik membawa jirigen berisi air.

“Usia tanaman sebulan lebih sedikit, sedangkan masa panen kurang 2 bulan lagi. Andai saja sesekali turun hujan, pasti akan lebih bagus untuk tembakau. Tapi kok kelihatannya susah ada hujan dikala situasi seperti ini, “ ungkap Sundoyo. (MJ – 81).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *