Embung Grawan Terancam Kritis, Dipicu Penyerobotan Air
Tanaman tembakau saat ini membutuhkan pasokan air yang cukup. Air embung turut menjadi sasaran.
Tanaman tembakau saat ini membutuhkan pasokan air yang cukup. Air embung turut menjadi sasaran.

Sumber – Air baku di Embung Desa Grawan Kecamatan Sumber kondisinya memprihatinkan, karena diduga sering diserobot airnya untuk pengairan tanaman tembakau. Kondisi itu membuat pasokan air minum ke ratusan pelanggan terancam.

Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Rembang, Muhammad Affan menjelaskan para pengambil air rata – rata terjadi pada malam hari, sehingga menyulitkan pantauan. Sempat diketahui lebih dari 10 selang menyedot air embung.

Saat ini penjaga embung meningkatkan pengawasan, untuk mengurangi potensi hilangnya air. Kalau terus – terusan disedot, maka persediaan air embung akan semakin menipis. Dalam sehari, elevasi air berkurang 3 centi meter. Jika tidak turun hujan, air embung diperkirakan habis antara 1,5 sampai dengan 2 bulan lagi.

Solusi Keluhan Lambung

“PDAM dan penjaga embung bekerja sama melakukan pantauan, lakukan inspeksi untuk melakukan pencegahan. Kita nggak khawatir, karena kawasan itu kan wilayah embung yang dikuasai negara, dalam hal ini Balai Besar Sungai Pemali Juwana. Sebenarnya orang yang nggak berkepentingan dilarang masuk, “ ujar Affan.

Affan menambahkan selain Embung Grawan, sejumlah embung lainnya juga mengalami penurunan debet air, akibat cuaca panas terik. Embung Grawan dianggap paling kritis, disusul Embung Jatimudo Kecamatan Sulang, Embung Banyukuwung di perbatasan Kecamatan Sulang dan Kecamatan Sumber dan Embung Lodan di Kecamatan Sarang.

Menurutnya, pembagian air untuk pertanian dan air minum sudah diatur. Selama sesuai prosedur, sebenarnya tidak masalah.

“Di sana kan ada pintu air khusus pertanian, begitu pula PDAM punya isntalasi sendiri yang sudah dibangun. Di luar pengambilan itu, seperti menyedot atau dialirkan ke truk tangki ya nggak boleh, “ imbuhnya.

Berdasarkan penelusuran Reporter R2B, air embung Grawan disedot oleh sejumlah warga. Termasuk ada yang sengaja mengalirkan ke sungai dulu, baru dinaikkan menuju kendaraan tangki maupun truk membawa tandon air.

Selanjutnya air dijual kepada petani tembakau seharga Rp 140 ribu tiap rit. Saat ini banyak tanaman tembakau yang terancam pertumbuhannya, lantaran kekurangan air. Lebih – lebih masa panen masih lama, rata – rata kurang 2 bulan lagi. (MJ – 81).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *