Merawat Tradisi, Menjaga Silaturahmi
Warga Dusun Matalan, Desa Purworejo, Kecamatan Kaliori berkumpul, guna meramaikan tradisi kupatan, Jum’at pagi.
Warga Dusun Matalan, Desa Purworejo, Kecamatan Kaliori berkumpul, guna meramaikan tradisi kupatan, Jum’at pagi.

Kaliori – Seminggu setelah Lebaran, masyarakat Kabupaten Rembang merayakan tradisi kupatan. Kegiatan tersebut merupakan sarana untuk bersedekah, sekaligus bentuk rasa syukur.

Di Dusun Matalan, Desa Purworejo, Kecamatan Kaliori misalnya. Warga sejak Jum’at pagi (22 Juni 2018) sudah berkumpul di Balai Pertemuan Dusun Matalan, untuk merayakan kupatan atau warga setempat biasa menyebutnya “Bodo Kecil”. Mereka membawa wadah berisi kupat dan lepet.

Tokoh masyarakat Dusun Matalan, Ali Maskuri menuturkan setelah do’a bersama, kupat dan lepet dilempar ke tengah arena kondangan. Setiap warga turut menyerahkan wajid (uang), kemudian diterima oleh modin. Begitu selesai, kupat dan lepet tersebut dibagikan lagi kepada warga sekitar.

“Melemparkan ketupat ke tengah itu hanya untuk memudahkan saja, nggak ada arti apa – apa. Saya anggap wajid itu adalah uang berkah merupakan sedekah warga, “ kata Ali.

Ali Maskuri menambahkan tradisi kupatan diyakini peninggalan Wali Songo, ketika dulu menyebarkan agama Islam. Hingga saat ini kupatan di kampungnya masih lestari sebagai agenda rutin turun temurun.

Meski terlihat sepele, namun menurutnya terkandung makna bersedekah. Sedekah sendiri menjadi ajaran agama Islam, salah satu manfaatnya untuk menghalau musibah atau bala’.

“Hari raya kupatan nggak bisa dilepaskan dari warga di sini. Yang namanya sedekahan kan baik, yang ikut ya seluruh warga Matalan. Sekaligus untuk syukur, dengan bersedekah diharapkan jauh dari musibah, “ imbuhnya.

Sementara itu tokoh pemuda Dusun Matalan Desa Purworejo Kecamatan Kaliori, Mochammad Lilik Wijanarko mengaku berkumpul di balai pertemuan dengan membawa kupat dan lepet tidak hanya dilakukan oleh warga generasi tua. Namun banyak pula generasi muda yang datang. Baginya kearifan lokal semacam itu, sekaligus menjadi ajang silaturahmi antar warga, yang terkadang jarang bertemu, karena sibuk dengan pekerjaan masing – masing. (MJ – 81).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *