Sosialisasi Dihujani Protes, Ini Alasan Warga Ngotot Menolak Perluasan TPAS
Suasana sosialisasi membahas pengelolaan sampah TPAS. (gambar atas) Atribut berisi penolakan rencana perluasan TPAS Landoh dibentangkan warga, Sabtu (05/05).
Suasana sosialisasi membahas pengelolaan sampah TPAS. (gambar atas) Atribut berisi penolakan rencana perluasan TPAS Landoh dibentangkan warga, Sabtu (05/05).

Sulang – Sosialisasi mengenai pengelolaan sampah Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) yang berlangsung di Balai Desa Landoh Kecamatan Sulang, Sabtu pagi (05 Mei 2018) berlangsung tegang. Bahkan warga sempat membentangkan poster besar, berisi penolakan rencana perluasan TPAS.

Ahmad Khoiron, Wakil Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Landoh Kecamatan Sulang mengklaim mayoritas warga Desa Landoh menolak keinginan pemerintah memperluas Tempat pemrosesan Akhir Sampah. Alasannya, kondisi yang ada saat ini saja, limbah cair dari TPAS kerap mencemari sumber air di sumur – sumur milik masyarakat. Apalagi jika nantinya lokasi TPAS diperbesar.

Selain mengganggu lingkungan, keberadaan TPAS sejak tahun 1995 sampai sekarang dinilai belum pernah memberikan kontribusi kepada desa setempat. Kalaupun warga Desa Landoh banyak yang menjadi pemulung, menurutnya belum sebanding, karena pemulung bukan pekerjaan, melainkan sebuah pilihan akibat keterpaksaan.

“Intinya menolak rencana pelebaran TPAS. Yang paling menjengkelkan adalah limbah mencemari sumur warga. Kami soroti juga, apa fungsi TPAS untuk masyarakat sini. Dulu katanya pegawai TPAS diambilkan dari warga desa setempat, nyatanya tidak. Jangan kemudian apa – apa dikaitkan dengan manfaat bagi pemulung, nggak pas itu, “ keluhnya.

Khoiron menambahkan apabila nantinya ada sosialisasi susulan tentang rencana perluasan TPAS, pihaknya tetap akan menolak. Bahkan warga yang siap datang memprotes, kemungkinan jauh lebih banyak.

“90 % warga menolak. Lha kalau soal pembebasan lahan, saya nggak mau mencampuri. Bukan urusan kami mas. Yang penting suara masyarakat ini didengar, “ imbuh Khoiron.

Melihat protes warga semakin gencar, jalannya pertemuan diakhiri lebih cepat oleh pihak desa. Namun tidak sampai terjadi tindak anarkhis. Tak berselang lama, sejumlah pegawai Dinas Lingkungan Hidup meninggalkan balai desa Landoh.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Rembang, Suharso menanggapi pihaknya serius mengelola limbah cair atau limbah lindi di TPAS Landoh. Bahkan sudah ada rencana pengembangan limbah tersebut diolah menjadi gas metan dan air bersih.

Ia menganggap masyarakat belum memahami sepenuhnya, sehingga bersikap menolak. Sebelum pembebasan lahan, Pemkab Rembang akan terus berupaya memberikan pemahaman, sehingga wacana perluasan TPAS dapat diterima.

“Yang dikeluhkan kan penanganan limbah cair. Kami ingin mengolahnya menjadi gas metan dan air bersih. Ini tantangan bagi kita untuk membuktikan. Menyangkut pembebasan lahan, sudah ada komunikasi dengan pemilik. Sambil Satuan Kerja yang menangani pembebasan lahan menyelesaikan perencanaan, untuk apa saja tanah itu nanti, “ beber Suharso.

Sebelumnya, Pemkab Rembang mencanangkan program perluasan TPAS Desa Landoh 1,5 hektar. Mengingat volume pengangkutan sampah dari tahun ke tahun semakin meningkat. Dalam sebulan, rata – rata ada 832 truk yang masuk membuang sampah ke TPAS Landoh, dengan kapasitas 3.200 Meter Kubik. (MJ – 81).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *