Dulu Sering Dihujat, Kini Bermanfaat
Pengolahan limbah cair dari pembersihan kedelai dijadikan biogas oleh warga Dusun Bogorejo Desa Karasgede Kecamatan Lasem.
Pengolahan limbah cair dari pembersihan kedelai dijadikan biogas oleh warga Dusun Bogorejo Desa Karasgede Kecamatan Lasem.

Lasem – Potensi gas yang dihasilkan dari limbah pembuatan tempe di Dusun Bogorejo Desa Karasgede Kecamatan Lasem, cukup berlimpah. Pihak desa membantu tempat penampungan limbah dengan ukuran lebih besar, supaya gas nantinya tidak terbuang percuma.

Seorang perangkat desa Karasgede Kecamatan Lasem, Muharsono, Jum’at pagi (27 April 2018) mengatakan Pada tahun 2017, Pemerintah Desa setempat telah mengucurkan dana sekira Rp 36 Juta, guna membuat tempat penampungan baru. Ia berharap jumlah gas yang besar dapat tersimpan, paling tidak untuk jangka beberapa hari. Menyangkut pemanfaatannya, tinggal menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Kalau memungkinkan, jumlah warga penerima manfaat kelak semakin banyak.

Pihaknya kedepan juga ingin mengolah gas tersebut, dialihkan ke tabung seperti elpiji ukuran 3 Kg. Kebetulan seorang ahli dari Jerman ingin membantu memfasilitasi. Saat ini kedatangan yang bersangkutan masih dinantikan.

“Kita sudah ada MoU, kabarnya ahli tersebut sudah di Jakarta. Tapi belum sampai ke desa kami. Kalau itu terwujud, pasti melegakan masyarakat. Apalagi pasokan gas elpiji 3 Kg lambat datangnya. Setelah modifikasi baru, coba nanti dikaji pengembangan yang efektif seperti apa, “ ujarnya.

Muharsono menambahkan limbah air saat membersihkan kedelai di Desa Karasgede dulu sempat memicu kemarahan warga, karena baunya sangat menyengat dan mengganggu lingkungan.

Kali pertama dibantu bak penampungan. Tanpa sengaja ada yang menyulut memakai korek api, ternyata bisa menyala. Awal mula kejadian tersebut menginspirasi pembuatan biogas dari limbah tempe. Sekira 4 tahun terakhir, menopang aktivitas masyarakat.

Sekarang ini tercatat 15 kepala keluarga menikmati biogas. Mulai untuk  membakar malam dalam proses membatik, menyalakan kompor untuk memasak hingga menyalakan lampu penerangan.

“Macam – macam kegunaannya. Padahal dulu itu memicu masalah di kalangan warga. Bahkan sempat mau ada demo segala. Ternyata setelah ditangani dengan baik kok ya bisa bermanfaat, “ tambah Muharsono.

Di Desa Karasgede terdapat 3 orang pembuat tempe. Sehari mampu mengolah 3 kwintal kedelai. Sebagai tambahan bahan baku, pengelolaan biogas juga menggunakan kotoran ternak sapi. Targetnya, Karasgede mampu menjadi kampung swa sembada gas. (MJ – 81).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *